Sabtu, 17 Desember 2011

Essay 16 (Kritik Sastra)



MENGUPAS KISAH CINTA SEGITIGA
Oleh Marliza

KRITIK sastra dapat diartikan sebagai salah satu objek sastra yang melakukan analisis penafsiran atau penilaian terhadap teks sastra sebagai karya seni. Di sini kita tauh kritik itu adalah analisis untuk menilai suatu karya, dan juga memiliki tujuan yang hendak kita capai. Tujuan yang sebenarnya adalah bukan untuk menunjukan keunggulan ataupun kelemahan benar atau salah sebuah karya sastra dipandang dari sudut tertentu tetapi tujuan akhirnya mendorong sastrawan untuk mencapai penciptaan sastra tertinggi mungkin juga mendorong pembaca untuk mengapresiasikan karya sastra lebih baik.
“Cinta adalah kekuatan yang mampu merubah duri menjadi mawar, mengubah cuka menjadi anggur, mengubah sedih menjadi ria, merubah amarah menjadi ramah,merubah musibah menjadi muhibah” itulah cuplikan-cuplikan puisi yang cukup indah dan bagus di dalam karya Habiburahim El Shirazy yang diangkat dari novel ini mengisahkan kehidupan seorang laki-laki yang cukup ganteng dan mempunyai kepribadian baik anaknya gigih,

Essay 15 (Kritik Sastra)



ATHEISME DALAM SASTRA

Oleh Vivi Yunita

SASTRA istilah yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sesuatu yang dahulu kita anggap sebagai sesuatu yang hanya berhubungan dengan puisi dan prosa ternyata tidak sesederhana itu. Kita harus banyak menggali dan mempelajari lebih banyak lagi segala sesuatu yang berhubungan dengan sastra tersebut. Sastra dapat diibaratkan dengan samudra yang sangat luas, yang memerlukan waktu yang sangat lama untuk dapat mengukur kedalamannya dan memanfaatkan kekayaannya.
Sastra sebenarnya tidak dapat didefinisikan secara objektif. Hal ini mengembalikan definisi sastra kepada cara bagaimana seseorang memilih untuk membaca, bukan kepada sifat-sifat karya tertulis tersebut. Apakah benar bahwa sebagian besar karya-karya yang dikaji sebagai sastra di pusat-pusat kajian akademik diciptakan untuk dibaca sebagai sastra? Banyak yang sebenarnya tidak dibuat demikian. Sebuah karya mungkin bermula sebagai sejarah atau falsafah dan setelah itu digolongkan sebagai sastra. Atau, karya itu mungkin bermula sebagai sastra kemudian berfungsi lain karena disanjung nilai psikologisnya.

Essay 14 (Kritik Sastra)



BUDAYA  MELAYU DALAM LASKAR PELANGI
Oleh Hervi Jayanda

DIANGKAT dari kisah nyata yang dialami oleh penulisnya sendiri, buku “Laskar Pelangi” menceritakan kisah masa kecil anak-anak kampung dari suatu komunitas Melayu yang sangat miskin di Belitung. Dalam novel ini banyak sekali nilai dan pesan moral yang terkandung, misalnya nilai keagamaan, nilai sosial, kedisiplinan, kepemimpinan, dan lain-lain. 
Andrea Hirata dalam Laskar Pelanginya telah memuat dan mengungkap unsur-unsur budaya Melayu. Budaya-budaya tersebut dipertontonkan olehnya dari dunia nyata masyarakat Melayu yang tidak terjangkau oleh masyarakat pembaca menjadi suatu tulisan yang sampai kepada mereka. Sehingga dengan semua itu, masyarakat pembaca sedikit banyak dapat memperoleh pengetahuan mengenai seluk-beluk adat-istiadat masyarakat Melayu.

Essay 13 (Kritik Sastra)



MENYELAMI LAUTAN TERDALAM JIWA DALAM NAFSUL MUTHMAINNAH
Oleh Roza Maryunita

            NAFSUL Muthmainnah karya perempuan muda dari Lampung yang bernama Anfika Noer adalah sebuah novel yang mengungkapkan misteri terdalam hati manusia. Novel spiritual tentang rahasia cinta dua hati aktivis muslim ini, Hasbi dan Yumna, mewakili banyak hati yang terjadi di sekitar kita. Salah satunya mungkin adalah anda sendiri.
            Novel yang mengisahkan kehidupan dua orang muslim yang menjalankan tugasnya sebagai seorang mahasiswa sekaligus sebagai aktivis kampus tanpa meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim. Namun, siapa yang akan mengetahui misteri hati selain si pemilik hati itu sendiri dan yang menciptakan hati.
            Berawal dari pertemuan Hasbi dengan seorang Yumna di sebuah sidang membuat Hasbi bertanya-tanya siapa Yumna sebenarnya. Hasbi tersinggung dengan ucapan Yumna yang mengatakan “kalau ia belum lulus saja sudah jadi koordinator forum alumni LDK”.

Essay 12 (Kritik Sastra)



MENYIBAK MISTERI DALAM CALA IBI
Oleh Lidya

DUNIA sastra kembali digemparkan dengan lahirnya sebuah karya sastra yang mampu memberi keutuhan lingkaran sastra yang mulai memudar saat ini. Novel Cala Ibi sebagai novel sastra, merupakan terobosan baru yang mutlak harus dicatat dalam khazanah sastra kita. Novel Cala Ibi karya Nukila Amal ini, menyeruak dan menggetarkan sastra Indonesia. Cala Ibi telah menumpahkan warna baru dalam jagad sastra kita dan memiliki peluang besar untuk hadir sebagai karya sastra besar yang abadi dan universal. Sebuah ukiran kata yang tangkas, indah, bernas dengan kalimat-kalimat yang menjelma menjadi rangkaian aforisme atau sebuah pernyataan. Cala Ibi menggambarkan hakikat nama, peristiwa dan cerita, maya dan nyata, diri dan halusinasi, tapi juga mempermasalahkan hakikat kata dan bahasa itu sendiri.

Essay 11 (Kritik Sastra)



SAMAN DAN PENYIMPANGAN NILAI MORAL
Oleh Linda Fitri Yeni

KARYA sastra tidak terlepas dari masyarakat. Dan oleh sebab itu sastra dapat dianggap sebagai cerminan keadaan masyarakat. Sastra lahir dari proses imajinasi dari seorang pengarang, imajinasi timbul karena adanya fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Sasra merupakan salah satu cabang kesenian yang selalu berada dalam peradaban manusia, kehadirannya di tengah peradaban manusia tidak dapat ditolak bahkan kehadirannya diterima sebagai salah satu realitas budaya sehingga karya sastra saat ini tidak saja dinilai sebagai karya seni yang mengandung nilai-nilai yang terbungkus dalam imajinasi dan emosi penghayatan dari pengarang. Sastra sebagai suatu karya kreatif yang dimanfaatkan sebagai konsumsi intelektual di samping konsumsi emosional.

Essay 10 (Kritik Sastra)



CINTA DAN KEKERASANDALAM DUNIA DUNIYA
Oleh Fatimah B. Darmawi

CINTA adalah perasaan istimewa yang dianugerahkan kepada manusia. Cinta menghidupkan jiwa. Cinta menjadikan seseorang bahagia dan merana pada masa yang sama. Setiap manusia berhak merasakan cinta. Baik itu cinta pada Tuhan, orang tua, teman ataupun lawan jenis. Karena manusia adalah mahkluk social yang tidak dapat hidup sendiri dan butuh cinta dan kasih saying dari orang lain. Cinta yang terdapat dalam novel Dunia Duniya ini yaitu cinta seorang anak terhadap orang tuanya, teman akrabnya Sihar, dan juga orang-orang disekitarnya. Sihar  adalah teman lelakinya, tetapi umur Sihar tiga tahun lebih tua dari Duniya, sehingga Sihar telah menganggap Duniya sebagai adiknya sendiri.

 
Design by Wahyuku Design | Bloggerized by Wahyu Saputra - Free Blogger Themes | Free Song Lyrics, Cara Instal Theme Blog