Jumat, 16 Desember 2011

Puisi Tentang Ombak



RUPANYA OMBAK

Tak bergeming
Diam....
Bisu seribu bahasa
Tak bergeming
Walau hanya sepatah kata
Bahkan tak berbisik

Ku sendiri
Larut dalam sunyi dan senyap
Langit biru yang merona
Sinar mentari pagi yang ceria
Nirmana yang mempesona
Tapi mengapa tak mampu
 membuat ku tersenyum lepas

ku tanya pada pasir
kenapa hanya mendesir
ku tanya pada karang
kenapa hanya membisu
dan kutanya pada ombak
rupanya ombak tak bergeming

harus kah ku hentikan hempasan ombak
hancurkan batu karang
tuk bisa membuat ombak bergeming
dan dapat menyapa ku...???

Karya: Mentari Darma Hilda/ 1101177
Mahasiswa Program Studi DKV di FBS UNP

Puisi Tentang Ombak



SEJATI  OMBAK

Suara hempasan ombak
Mendesir membasahi butiran pasir
Mengalun bagai melodi
Menari ria diatas batu karang

Pernahkah kau berpikir???
Pernahkah kau bermimpi???
Pernahkah kau bayangkan???

Suatu saat  nanti
Ombak berhenti
 tak mendesir
Butiran pasir sendiri
Terhenyap dalam rindu dan sepi
Terbuang sia-sia

Memang ku akui,ku tak pernah
Berpikir,bermimpi,dan membayangkan hal itu
Karena ku hanya seorang insan yang lemah
Tak berdaya dan tak mampu
Mengubah dan menatap dunia
Ku hanya diam dan membisu

ku sadar
diam bukan berarti ku takut
menghadapi badai pasir
Diam bukan berarti ku tak berjuang tuk hidupku
Diam bukan berarti ku tak ada impian
Dan tak pernah bermimpi

Tapi
ku diam tuk dapat menyelam kedasar laut
tuk dapat sebrangi ribuan pulau
tuk dapat hidup 10 ribu tahun
dan maju seribu langkah

Karya: Mentari Darma Hilda/ 1101177

Puisi Alam



BAHASA ALAM

dipepohonan
burung-burung belajar berbicara
dengan lidah kecilnya,
tapi aku tak mengerti

dilaut
ikan-ikan belajar terbang
dengan sayap yang keperak-perakan,
tapi aku tak mengerti.

Pasir mulai berbisik
Menghantarkan ke mana harus melangkah
Berkata samar-samar
Angin sepoi-sepoi, pasir mendesir

Diam seribu bahasa
Bukan, bukan. diam membisu
Tetapi diam yang membabi buta
Terdengar jelas di telinga

Diam itu emas
Dalam keheningan, pasir berdesir
Tak terhitung jumlahnya
Karna tidak abadi

Karya: Mentari Darma Hilda/ 1101177

Puisi Sang Musafir


BUKAN MUSAFIR SENJA

Hanya lewat sebuah guratan pena
Ku bercerita,dan ku ungkapkan
kisah musafir senja
berjalan dengan langkah tertatih
hati gundah,mata tertegun,
menghela satu persatu nafasnya
berkelana mencari sosok jati diri
menciptakan dimensi kehidupan utuh
hidup tapi setengah jiwa terkubur
menyerah hanya karena senja tiba
atau malam menghampiri
lumpuh hanya karena terkena sengatan
panas gurun yang menusuk tulang
atau mundur
karena badai pasir menerpa
jika itu dirimu
maka kau benar seorang musafir senja
menunggu malam menghampiri
terkubur,hancur,dan menyatu
menjadi butiran pasir atau debu
buang itu semua dari benakmu
itu hanya onak duri hidupmu
lepaskan belenggumu
jika kau ingin melihat
nirmana sejuta rasa dihidupmu
aku dan kamu
bukan musafir senja
tapi  kita adalah desainer gemilang
sekarang, esok, dan selamanya
kini secercah cahaya  kreativitas,inovatif,
dan kereta kencana impianmu
hadir melalui Krida Fbs  2011
ekspresikan bakat,minat,dan kreativitasmu
siapa jati dirimu sebenarnya
dan hidup dengan dimensi utuh
menikmati setiap masalah dihapanmu

                      Karya: Mentari Darma Hilda/ 1101177

Puisi Kota Bingkuang


BINGKUANG KOTAKU

Aku perantau dari kejauhan
Meniti jalan dari ujung pesisir, Bangkahulu menuju kota Bingkuang
Teluk Bayur pelabuhan gadang peninggalan zaman
Jalannya sang perantauan ke kota dagang

Hai kawan
Padang namanya, kotaku kotamu kota kita
Kota Bingkuang julukannya bukan bait-bait slogan
Tapi lihat, Terminal Bingkuang persinggahan kenangan
Lengang, namun ia terbang tinggi menjulang
di bawa musafir dan perantauan ke negeri seberang

Hai kawan
Lihatlah, tak kah kau sapa, pedagang minang dipinggir jalan
Jejeran bingkuang nan gadang-gadang
Beralunan lagu tembang kenangan
Buah tangan dari Padang

Oh, Padang Kota Bingkuang
Namamu ku kenang di sepanjang zaman
tak lapuk dalam ingatan
hingga ragaku sirna dan terbenam

Padang, September 2011
Puisi ini termasuk dalam 150 besar dalam Lomba Cipta Puisi oleh SMA Don Bosco Kota Padang di http://padangdalampuisi.blogspot.com dengan tema "Kado untuk Kota Padangku Tercinta".

Profil Penulis:
WAHYU SAPUTRA, lahir di Sungai Lintang, Muko-muko, Provinsi Bengkulu, 14 September 1987. Pernah kuliah di Andalas Institute Manajemen (AIM) Jayanusa Padang. Ia sekarang tercatat sebagai Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Padang (UNP). Pernah aktif dalam kepengurusan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah UNP, serta Forum Kajian Pengembangan Wawasan Islam (FKPWI) FBS UNP. Ia juga pernah sebagai sutradara sekaligus aktor dalam pementasan drama Segitiga Tanpa Sudut karya Suci Hidayati di FBS UNP dan aktor drama dalam pementasan Randai di Fakultas Sastra (FS) Udayana Bali. Selain itu ia juga pernah aktif  di Surat Kabar Kampus (SKK) Ganto UNP dan sekarang sedang bergiat di Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni UNP serta selalu menghabiskan waktu luangnya di kampus.

Puisi Pantai Purus


PROTES PANTAI PURUS

Masih kuingat, tepat lima tahun silam
Tiga sekawan menginjak kaki di kota padang
Kuikuti langkah kaki ayunan tangan
Sejalan telusuri petang pantai pinggir Padang
Kuhempaskan penat di sela batu tersusun panjang

Mengenang masa indah
Kupotret matahari yang tenggelam di balik lautan
Bola mataku berputar memandang awam
Tersenyum, ombak bersatu mengejar pasir perawan
Menjangkau kaki-kaki menjuntai di atas tumpukan batu
Menggulung, menghempas, seolah mendengar cengkrama hati
“Indah dan damainya Pantai Purus”

Kini lima tahun itu telah lenyap dari pandangan
Kujejaki pantai pinggir Padang seorang
Tak kulihat lagi batu tempat kubersandar dulu
Semua hilang di bawah selimut tirai cinta
Ah, zaman sekarang semakin suram
Mereka lebih memilih hitam daripada putih
Ia menyukai temaram remang daripada terang cahaya-Nya

Dari kejauhan redup cahaya langit-Mu
Kulihat kaki muda-mudi bersilang
Duduk di atas kursi rendah tak berkaki
Bernaung di bawah payung-payung asmara
Bersatu di muara bandar menuju lautan
Semoga tak kulihat lagi.

Padang, September 2011
 Puisi ini pernah diikutsertakan dalam Lomba Cipta Puisi oleh SMA Don Bosco Kota Padang di http://padangdalampuisi.blogspot.com dengan tema "Kado untuk Kota Padangku Tercinta".

Profil Penulis:
WAHYU SAPUTRA, lahir di Sungai Lintang, Muko-muko, Provinsi Bengkulu, 14 September 1987. Pernah kuliah di Andalas Institute Manajemen (AIM) Jayanusa Padang. Ia sekarang tercatat sebagai Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Padang (UNP). Pernah aktif dalam kepengurusan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah UNP, serta Forum Kajian Pengembangan Wawasan Islam (FKPWI) FBS UNP. Ia juga pernah sebagai sutradara sekaligus aktor dalam pementasan drama Segitiga Tanpa Sudut karya Suci Hidayati di FBS UNP dan aktor drama dalam pementasan Randai di Fakultas Sastra (FS) Udayana Bali. Selain itu ia juga pernah aktif  di Surat Kabar Kampus (SKK) Ganto UNP dan sekarang sedang bergiat di Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni UNP serta selalu menghabiskan waktu luangnya di kampus.

Puisi Tentang Pengemis



JERITAN PENGEMIS PASAR RAYA PADANG

Di pinggir itu, di samping jalan raya berjejer rapi
Pengemis jalanan dari sudut bumi
Tatapan matanya kosong
Mendambakan siapa yang lewat untuk mengulurkan tangan
Berharap akan ada yang mengasihi
Sambil berteriak…
Berikan kami kesempatan untuk hidup!
“Nak… Nak… Amak alum makan”.

Jeritan tangis seorang pengemis
Tua renta
Beralaskan bumi beratapkan matahari
Terik matahari itu menyengat kulit berkerut
Keriput membalut tulang rangkanya

Mencoba mengejar rezeki mencari sesuap nasi
Bergelut tangisan
Hanya jeritan mengenang nasib
Terkadang mendapat cercaan

Oh, inikah kotaku?
Padang yang makmur?
Pemimpin bijaksana?
Atau Padang hanya milik
Penguasa!
Kekuasaan!
Berkuasa!

Masihkah ada rangkiang  si tinjau lauik, si bayau-bayau, si tanggung lapa atau  rangkiang harimau paunyi koto?
Sakik sanang samo diraso jarang kita dengar
Semuanya tinggal dalam sejarah

Lihatlah mereka
Mata buta, tangan satu, kaki lumpuh dan muka reot
Merangkak kian kemari

Si pengemis bertanya dalam hati,
“Apakah kalian  pernah merasakan musim semi nan harum dan mewangi sambil bermimpi?”
Indah tiada terperi…
Sayang, kami tak pernah merasakan itu
Hanya terpuruk dalam dalam kesengsaraan
Remuklah sudah segala pengharapan

Sahabat…
Jangan katakan mereka pengemis!
Bukankah mereka ingin hidup dan bernafas?
Jangan diam, benci, apalagi mengusir!

Serpihan demi serpihan luka
Selalu menggores

Bila hujan datang kemanakah mereka akan pergi?
Rumah tak punya apalagi istana
Bila dingin datang siapakah yang akan menyelimuti?
Sementara sukma mereka menggigil bagai di kutub utara
Disaat itu ada satu harapan
Menantikan hari esok untuk mengemis lagi
Di pasar ini…


(Mesjid Taqwa Muhammadiyah Pasar Raya, Padang 10 September 2011)
 Puisi Ini termasuk dalam 75 besar dalam Lomba Cipta Puisi oleh SMA Don Bosco Kota Padang di http://padangdalampuisi.blogspot.com dengan tema "Kado untuk Kota Padangku Tercinta".

Profil Penulis:
WISMAN, lahir pada tanggal 25 Maret 1990 di Kabupaten Solok Selatan, Sumatra Barat. Menulis cerpen dan puisi mulai semenjak kelas 1 SLTP, setiap tulisan yang dikirim ke mading sekolah semenjak SLTP sampai SLTA selalu dipublikasikan di mading dan juga mendapatkan penghargaan. Pada tahun 2011 ini lulus hingga 50 besar Film Dokumenter Eagle Awards Metro TV. Selain hobi menulis juga aktif organisasi dan melaksanakan kegiatan organisasinya.

 

 
Design by Wahyuku Design | Bloggerized by Wahyu Saputra - Free Blogger Themes | Free Song Lyrics, Cara Instal Theme Blog