-
*Laki-laki Tua Pengangkut Jerami*
*Namanya* Karman. Tidak seorangpun yang tahu asal-usul Karman. Dia datang
dari mana, bersama siapa dan kenapa bisa te...
Essay 45 (Kritik Sastra)
-
*PERKARA SIANG DAN MALAM YANG SANGAT *
*MEMBINGUNGKAN DALAM CALA IBI*
Oleh Novia Okta Viari
CALA Ibi merupakan tulisan yang sulit dicerna atau dipahami,...
Meniti jalan dari ujung pesisir, Bangkahulu menuju kota Bingkuang
Teluk Bayur pelabuhangadangpeninggalan zaman
Jalannya sang perantauan ke kota dagang
Hai kawan
Padang namanya, kotaku kotamu kota kita
Kota Bingkuang julukannya bukan bait-bait slogan
Tapi lihat, Terminal Bingkuang persinggahan kenangan
Lengang, namun ia terbang tinggi menjulang
di bawa musafir dan perantauan ke negeri seberang
Hai kawan
Lihatlah, tak kah kau sapa, pedagang minang dipinggir jalan
Jejeran bingkuangnan gadang-gadang
Beralunan lagu tembang kenangan
Buah tangan dari Padang
Oh, Padang Kota Bingkuang
Namamu ku kenang di sepanjang zaman
tak lapuk dalam ingatan
hingga ragaku sirna dan terbenam
Padang, September 2011
Puisi ini termasuk dalam 150 besar dalam Lomba Cipta Puisi oleh SMA Don Bosco Kota Padang di http://padangdalampuisi.blogspot.com dengan tema "Kado untuk Kota Padangku Tercinta".
Profil Penulis:
WAHYU SAPUTRA,lahir di Sungai Lintang, Muko-muko, Provinsi Bengkulu, 14 September 1987. Pernah kuliah di Andalas Institute Manajemen (AIM) Jayanusa Padang. Ia sekarang tercatat sebagai Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Padang (UNP). Pernah aktif dalam kepengurusan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah UNP, serta Forum Kajian Pengembangan Wawasan Islam (FKPWI) FBS UNP. Ia juga pernah sebagai sutradara sekaligus aktor dalam pementasan dramaSegitiga Tanpa Sudutkarya Suci Hidayati di FBS UNP danaktor drama dalam pementasan Randai di Fakultas Sastra (FS) Udayana Bali. Selain itu ia juga pernah aktif di Surat Kabar Kampus (SKK)GantoUNP dan sekarang sedang bergiat di Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni UNP serta selalu menghabiskan waktu luangnya di kampus.
Ia menyukai temaram remang daripada terang cahaya-Nya
Dari kejauhan redup cahaya langit-Mu
Kulihat kaki muda-mudi bersilang
Duduk di atas kursi rendah tak berkaki
Bernaung di bawah payung-payung asmara
Bersatu di muara bandar menuju lautan
Semoga tak kulihat lagi.
Padang, September 2011
Puisi ini pernah diikutsertakan dalam Lomba Cipta Puisi oleh SMA Don Bosco Kota Padang di http://padangdalampuisi.blogspot.com dengan tema "Kado untuk Kota Padangku Tercinta".
Profil Penulis:
WAHYU SAPUTRA,lahir di Sungai Lintang, Muko-muko, Provinsi Bengkulu, 14 September 1987. Pernah kuliah di Andalas Institute Manajemen (AIM) Jayanusa Padang. Ia sekarang tercatat sebagai Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Padang (UNP). Pernah aktif dalam kepengurusan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah UNP, serta Forum Kajian Pengembangan Wawasan Islam (FKPWI) FBS UNP. Ia juga pernah sebagai sutradara sekaligus aktor dalam pementasan dramaSegitiga Tanpa Sudutkarya Suci Hidayati di FBS UNP danaktor drama dalam pementasan Randai di Fakultas Sastra (FS) Udayana Bali. Selain itu ia juga pernah aktif di Surat Kabar Kampus (SKK)GantoUNP dan sekarang sedang bergiat di Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni UNP serta selalu menghabiskan waktu luangnya di kampus.
Di pinggir itu, di samping jalan raya berjejer rapi
Pengemis jalanan dari sudut bumi
Tatapan matanya kosong
Mendambakan siapa yang lewat untuk mengulurkan tangan
Berharap akan ada yang mengasihi
Sambil berteriak…
Berikan kami kesempatan untuk hidup!
“Nak… Nak… Amak alum makan”.
Jeritan tangis seorang pengemis
Tua renta
Beralaskan bumi beratapkan matahari
Terik matahari itu menyengat kulit berkerut
Keriput membalut tulang rangkanya
Mencoba mengejar rezeki mencari sesuap nasi
Bergelut tangisan
Hanya jeritan mengenang nasib
Terkadang mendapat cercaan
Oh, inikah kotaku?
Padang yang makmur?
Pemimpin bijaksana?
Atau Padang hanya milik
Penguasa!
Kekuasaan!
Berkuasa!
Masihkah ada rangkiang si tinjau lauik, si bayau-bayau, si tanggung lapa atau rangkiang harimau paunyi koto?
Sakik sanang samo diraso jarang kita dengar
Semuanya tinggal dalam sejarah
Lihatlah mereka
Mata buta, tangan satu, kaki lumpuh dan muka reot
Merangkak kian kemari
Si pengemis bertanya dalam hati,
“Apakah kalian pernah merasakan musim semi nan harum dan mewangi sambil bermimpi?”
Indah tiada terperi…
Sayang, kami tak pernah merasakan itu
Hanya terpuruk dalam dalam kesengsaraan
Remuklah sudah segala pengharapan
Sahabat…
Jangan katakan mereka pengemis!
Bukankah mereka ingin hidup dan bernafas?
Jangan diam, benci, apalagi mengusir!
Serpihan demi serpihan luka
Selalu menggores
Bila hujan datang kemanakah mereka akan pergi?
Rumah tak punya apalagi istana
Bila dingin datang siapakah yang akan menyelimuti?
Sementara sukma mereka menggigil bagai di kutub utara
Disaat itu ada satu harapan
Menantikan hari esok untuk mengemis lagi
Di pasar ini…
(Mesjid Taqwa Muhammadiyah Pasar Raya, Padang 10 September 2011)
Puisi Ini termasuk dalam 75 besar dalam Lomba Cipta Puisi oleh SMA Don Bosco Kota Padang di http://padangdalampuisi.blogspot.com dengan tema "Kado untuk Kota Padangku Tercinta".
Profil Penulis:
WISMAN, lahir pada tanggal 25 Maret 1990 di Kabupaten Solok Selatan, Sumatra Barat. Menulis cerpen dan puisi mulai semenjak kelas 1 SLTP, setiap tulisan yang dikirim ke mading sekolah semenjak SLTP sampai SLTA selalu dipublikasikan di mading dan juga mendapatkan penghargaan. Pada tahun 2011 ini lulus hingga 50 besar Film Dokumenter Eagle Awards Metro TV. Selain hobi menulis juga aktif organisasi dan melaksanakan kegiatan organisasinya.