Selasa, 03 Januari 2012

Essay 42 (Kritik Sastra)



EMANSIPASI WANITA DALAM PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN
Oleh Juvrizal

NOVEL yang satu ini begitu mengharukan serta mampu membuat pembaca atau penonton ikut larut dalam rangkaian cerita yang disuguhkan oleh Hanung Bratmantyo yang berjudul perempuan Berkalung Sorban tentang perjuangan muslimah. Membaca novel ini membuat pembaca jadi penasaran lalu kemudian ingin menonton atau menyaksikan filmnya supaya pembaca lebih tahu jalan ceritanya dan adegan yang dibawakan oleh penokohannya. Di dalam isi cerita hal yang terjadi yaitu tentang seorang perempuan yang ingin dapat kebebasannya, tetapi tidak disetujui. Kemauannya itu ditentang oleh keluarganya sendiri misalnya saja ketika Annisa kecil dipilih menjadi ketua kelas, Kyai Hanan secara tidak langsung mengganti Annisa dengan murid laki-laki, juga ketika Annisa ingin belajar naik kuda layaknya laki-laki. Annisa selalu diajarkan bagaimana menjadi wanita yang bisa melayani laki-laki sehingga Annisa berpikir bahwa wanita sama sekali tidak mempunyai kebebasan layaknya seorang laki-laki.
Pemikiran ini semakin nyata ketika Annisa mendapatkan beasiswa kuliah ke Yogyakarta, lagi-lagi Kyai Hanan melarang Annisa dengan alasan tidak boleh wanita pergi keluar rumah tanpa ditemani muhrimnya. Lagi-lagi Annisa hanya bisa pasrah karena Kyai Hanan selalu menggunakan dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun Hadist untuk memperkuat alasannya.
Sebenarnya ada seorang laki-laki yang selalu menghibur Annisa ketika ia sedih, laki-laki yang bernama Khudori (Oki Antara) yang masih merupakan kerabat Kyai Hanan ini ternyata lebih bijak menyikapi Annisa karena kedekatannya itulah maka timbul benih cinta antara Khudri dan Annisa. Tetapi Khudori kemudian benih cinta itu dengan pergi ke Kairo.
Sementara itu disaat penentuan jodohpun selalu diatur oleh orang tuanya sendiri, Annisa sudah ada pilihan hatinya Khudori, tapi rasa itu tidak diungkapkan Khudori, sebab Khudori ingin meraih cita-cita, kisah percintaannya itu selalu terombang-ambing. Ayah Annisa pun menjodohkan Annisa dengan pilihan Kyai Hanan yang bernama Samsudin (Reza Rahadian) anak seorang Kyai yang mempunyai pondok pesantren Salifiah besar di Jawa Timur. Ternyata Annisa tidak dapat kebahagiaan ketika bersama Samsudin yang ternyata adalah seorang yang bersifat kasar. Bahkan Annisa korban poligami yang dilakukan Samsudin.
Annisa sangat terpukul dengan perlakukan Samsudin ia ingin bebas dari cengkeraman rumah tangga yang penuh siksaan batin. Lalu dengan rasa iba dan sedih Annisa diam-diam menemui Khudori. Tetpai samsudin mengetahui hal tersebut, ketika Annisa bertemu diam-diam disuatu tempat hal tersebut diketahui oleh Samsudin. Samsudin pun memfitnah Khudori bahwa dia telah berzina dengan Annisa. Annisa dan Khudori diusir dari Pondok Pesantren. Hal ini menyebabkan Kyai Hanan sakit hingga akhirnya Kyai Hanan meninggal dunia.
Selanjutnya novel ini atau filmnya Perempuan Berkalung Sorban ini menceritakan tentang Annisa yang pergi belajar keYogyakarta setelah dia diusir dari pondok. Khudori sendiri tidak jelas berada dimana. Annisa mulai dengan kehidupan barunya dan mempunyai pekerjaan disamping sebagai penulis cerpen. Setelah beberapa lama menghilang, Khudori kembali muncul dihadapannya.
Rasa cinta itu timbul disaat Khudori bertemu Annisa. Khudori melamar Annisa. Pernikahan mereka berlangsung dan Annisa kembali ke pondok pesantren bersama dengan Khudori. Dipesantren mempunyai niat untuk mencoba membuat perpustakaan di Pondok Pesantren. Tetapi hal ini mendapatkan pertentangan keras dari kakak-kakak Annisa yang menjadi pengurus pesantren setelah meninggalnya Kyai Hanan. Lalu kemudian Annisa tetap ngotot ingin membuat perpustakaan di Pondok Pesantren. Tetapi Annisa akhirnya mengurungkan niat membuat perpustakaan ketika Khudori meninggal dalam sebuah kecelakaan. Annisa kembali ke Yogyakarta dan menjadi konsultan lembaga bantuan hukum khusus perempuan. Ternyata ada tiga santri yang kagum dengan Annisa dan menyusul Annisa ke Yogyakarta. Annisa kemudian kembali kepesantren dan berhasil mendapatkan pengakuan haknya dari kakak-kakaknya.
Pengembangan tokoh dalam tokoh sangat jelas beserta watak dan fisik yang dimilikinya. Terkadang pembaca  ikut marah, geram, kagum, semangat dan luapan emosi lainnya hadir melalui tokoh-tokoh yang diceritakan. Hanung Bratmantyo berusaha memaparkan tokoh-tokoh dalam cerita perempuan berkalung sorban ini, Hanung mencoba mengkritik pembatasan-pembatasan terhadap perempuan dalam agama Islam.
Ketegangan memuncak dialami tokoh Annisa ketika Annisa ingin melanjutkan cita-citanya tetapi ayahnya Kyai Hanan melarangnya, dan pada saat membina rumah tangga dengan Samsudin, Annisa diperlakkan oleh Samsudin rendah, kemudian pada saat Annisa ingin membuat sebuah perpustakaan di pesantren ayahnya malah ditentang oleh kakak-kakaknya.
Sebuah novel yang sarat dengan amant atas pelajaran. Pengarang mencoba memberikan pelajaran bagi setiap perempuan atas kebebasan hak-haknya yang direndahkan. Setiap kemauan anak yang bersifat positif, jangan dibedakan oleh jenis kelamin karena perempuan sudah diperjuangkan martabatnya oleh R.A Katini
Pengarang begitu teratur mengisahkan cerita ini, namun menarik untuk dibaca ceritanya. Penggambaran terhadap perjuangan seorang perempuan atas hak-haknya yang belum didapati. Pengarang berupaya memberi pencerahan baru pada pemikiran manusia yang masih suka menggangap kaum wanita rendah derajatnya.



RIWAYAT PENULIS
Juvrizal, dilahirkan di Ladang Panjang pada tanggal 10 juni 1988, sekarang sedang kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Padang. Riwayat pendidikan adalah SDN 01 Pasar Ladang Panjang, SMP N 01 Kecamatan Tigo Nagari, SMA N 01 Kecamatan Tigo Nagari. Alamat Jalan Lintas Padang Sawah Kumpulan.

Essay 41 (Kritik Sastra)



SEKSUALITAS DALAM LAILA: TARIAN PENGORBANAN
Oleh Raili Irva Dilla

DALAM cerpen Laila Tarian Pengorbanan ini terdapat cerita yang sangat menarik. Rintangan demi rintangan dilalui oleh Laila, demi kesembuhan ibunya Laila rela melakukan apapun. Laila pernah mencoba melamar kerjaan ke mana-mana dengan ijazah SMA yang dia punya tetapi iya tidak juga mendapatkan pekerjaan yang layak. Demi kebahagiaan Laila rela berkorban apapun untuk orang yang ia sayangi. Asalkan ia bisa berkumpul dan bercanda ria bersama keluarga yang sangat ia sayangi. Karena  keluarga itu sangat penting dalam hidupnya. 
Laila sedih sekali melihat ibunya sakit-sakitan. Ia sudah membawa ibunya berobat kemana-mana namun penyakit yang diderita ibu Laila tidak sembuh juga. Hari demi hari penyakit ibunya semakin bertambah parah, Laila tidak tahu harus berbuat apa lagi, Laila rela melakukan apa saja demi kesembuhan ibunya. Penyakit  yang diderita ibu Laila semakin parah, sehingga Laila kehabisan uang untuk membiyai rumah sakit ibunya. Laila bertambah bingung dan putus asa. Laila menjadi kebingungan kemana ia harus mencari uang untuk membeli obat ibunya. Karena himpitan ekonomi yang dialami Laila, ia akhirnya memutuskan bekerja sebagai pelacur dan dari pekerjaannya itulah Laila bisa membayar biaya rumah sakit ibunya.
Setiap malam Laila bekerja dari hotel yang satu ke hotel yang lain, Laila harus bekerja keras demi kesumbuhan ibu yang sangat ia sayangi. Padahal ibu Laila pernah berpesan kepada Laila “apapun yang terjadi, berjanjilah pada ibu untuk tidak terseret ke lembah hitam. Lebih baik miskin terhormat dari pada  kaya raya tapi harus menjual diri”. Tetapi apa daya demi kesembuhan ibunya Laila harus mengingkari janjinya kepada ibu yang sangat ia sayangi.
 Demi memuaskan pelanggannya Laila menciptakan sebuah tarian yang sangat menyiksanya. Tarian itu ia namakan “Tarian Pengorbanan” mengapa dinamakan tarian pengorbanan?
 Karena tarian tersebut melibatkan seluruh panca indranya dan terkadang tangan kasar pelanggannya memperlakukan Laila dengan tidak senonoh. Pelanggan Laila sering mencakar kulit Laila. Tetapi pekerjaan tersebut harus ia kerjakan demi kesembuhan ibunya harta yang sangat berharga dalam hidupnya.
Dari hasil melacur rupiah demi rupiah dikumpulkan oleh Laila untuk membayar rumah sakit ibunya, dengan perasaan bahagia membayangkan ibunya segera sembuh. Laila harus mencari uang sendiran karena ayah Laila sudah lama meninggalkan. Ayah Laila meninggalkan keluarganya karena tidak tahan melihat sakit yang diderita ibunya. Ayah Laila sangat jijik karena penyakit bisul bau dan bernanah yang diderita ibu Laila semakin hari semakin parah. Bagaimana mungkin Laila sanggup memikul beben ini sendirian, tapi dia harus kuat demi kesembuhan ibunya.
Sedangkan kakak Laila juga tidak memiliki pekerjaan yang tetap. Ibu Laila menderita penyakit yang sulit disembuhkan, akibat penyakit tersebut ibu Laila harus dirawat di rumah sakit dan membutuhkan biaya yang mahal. Kakak Laila yang bernama Mbak Ning sangat marah saat mengetahui Laila bekerja sebagai pelacur.
Mbak Ning menyuruh Laila berhenti bekerja sebagai pelacur, untuk menutupi biaya rumah sakit ibunya Mbak Ning menjual organ tubuhnya secara ilegal. Atas perbuatanya tersebut Mbak Ning harus kehilangan nyawanya sendiri. Laila dan ibunya sangat terpukul atas kejadian yang dialaminya, Laila tidak menyangka harus mengalami kejadian yang sangat menyakitkan ini.
Akhirnya ibu Laila juga mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis, kemudian tinggallah Laila sebatang kara tanpa seorangpun yang menemaninya.



RIWAYAT PENULIS
Raili Irva Dilla lahir di Painan Kabupaten Pesisir Selatan pada tanggal 28 September 1990. Memulai pendidikan di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas di Lakitan Kec. Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan. Sekarang dia sedang melajutkan studinya di perguruan tinggi Universitas Negeri Padang.

Essay 40 (Kritik Sastra)



NILAI KEPERCAYAAN DALAM MOKSA
Oleh Wahyu Saputra

KEHIDUPAN zaman edan saat ini sebagian orang banyak mengabaikan kebenaran. Bahkan banyak orang sudah menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, krisis moral sudah merajalela dimana-mana, kebenaran dan keadilan sudah langka. Orang sudah tidak mengenal budaya malu, anak tidak lagi menghormati orang tuanya, dan orang tua bahkan tidak tahu-menahu tentang anaknya sendiri. Semua perbuatannya dianggap sudah benar dan normal, padahal semuanya telah disusun rapi oleh agamanya masing-masing. Setiap agama memiliki aspek fundamental yaitu aspek kepercayaan dan keyakinan, terutama kepercayaan terhadap sesuatu yang sakral, yang suci atau yang ghaib. Kepercayaan tersebut diyakini dengan mentaati, menjalani, mengaplikasikannya dalam kehidupan akan membawa hidup yang lebih baik, bahagia dalam kehidupan dunia maupun akhirat. 
Namun disisi lain, arti kepercayaan sangatlah luas. Bukan hanya hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta semata, tetapi juga adanya hubungan antara sesama makhluk ciptaan-Nya itu sendiri. Dalam keseharian kita menjalani suatu kegiatan baik itu perorangan, kelompok maupun lembaga, pasti ada tanggung jawab yang dipikul, hanya saja kapasitas tanggung jawabnya yang berbeda. Jika besar tugas yang dibebankan maka tanggung jawabnya pun besar begitu pula sebaliknya. Dalam aplikasi pertanggungjawaban akan memunculkan suatu embrio yang baru yaitu “Kepercayaan” (kepercayaan antara manusia dengan manusia). 
Di dalam cerpen Moksa buah karya Putu Wijaya ini menyajikan sebuah nilai kepercayaan itu tersendiri. Melalui karya sastranya, Putu Wijaya berhasil mengungkapkan ide dan gagasannya tentang fenomena yang sering terjadi pada kehidupan sekarang, yaitu hilangnya sikap saling percaya. Cerpen ini mengupas nilai kepercayaan dalam kehidupan keluarga, yang diperan oleh seorang dokter yang mempunyai istri dan seorang anak bernama Moksa, mahasiswi yang indekos di daerah Depok. 
Nilai kepercayaan dalam cerpen ini merupakan bentuk proposisi-proposisi umum yang bersifat abstrak. Proposisi ini dapat dikaitkan dengan proposisi suatu konteks tertentu. Misalnya hubungan proposisi antara bapak dan ibu Subianto bersifat saling menyangkal antara keduanya. Hubungan itu dapat terbangun karena proposisi keduanya dapat diakses oleh tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. Terlihat dengan bahasa yang sederhana cerpen Moksa telah mengangkat tema-tema aksesbilitas, reabilitas, sirkulasi dan transmisi pengetahuan mengenai hakikat kehidupan maupun nilai kepercayaan. Mampu mengangkat tema-tema yang dapat diakses atau dipahami dengan baik oleh pembaca. Hal ini karena cerpen Moksa dalam penyajiannya menggunakan setting, tema dan konflik yang ada dalam kehidupan sehari-hari dengan bahasa yang singkat dan jelas. Seperti, mengangkat konflik tentang kepercayaan seorang ayah atau orang tua kepada anaknya. 
Dokter Subianto, yang berharap agar anaknya dapat terdidik menjadi anak yang lebih baik, mandiri ketika jauh dari orang tuanya. Disini sangat jelas bahwa seperti apa nilai kepercayaan orang tua kepada anaknya, karena Dokter Subianto berani melepas anaknya tinggal di daerah lain dengan jarak yang cukup jauh. Walaupun Moksa adalah seorang perempuan, namun sebagai orang tua, dia dan istrinya tetap berhati besar, baik dan sabar, serta memberi kepercayaan penuh terhadap buah hatinya tersebut.
Namun dibalik semua itu, kepercayaan yang telah diberikan orang tuanya tersebut belum bisa dipertanggungjawabkan oleh Moksa dalam kehidupannya untuk mencapai kedewasaan. Orang tuanya sangat mengharapkan anaknya bisa berhasil, sukses, terdidik, dan mendiri. Namun semua itu berkata lain, karena anaknya bernama Moksa yang indekos di daerah Depok tersebut malahan menjadi anak nakal. Hal-hal seperti ini sebenarnya banyak terjadi di dalam kehidupan nyata.
Perspektif mengenai nilai kepercayaan dalam cerpen Moksa ini terjadi diakhir cerita. Ketika pandangan seorang Ayah yang berbeda dengan anaknya. Seperti yang kita ketahui kepercayaan adalah keyakinan akan sesuatu yang dianggap sesuatu itu benar. Namun dalam cerpen ini terjadi perbedaan pandangan tentang nilai kepercayaan itu tersendiri. Hal ini terjadi diakhir cerita yang menjadi klimaks. Dokter Subianto yang sedang berusaha mengendalikan amarahnya, Moksa menemuinya untuk menanyakan apakah ayahnya marah dan masih percaya padanya. Sang ayah menjawab tidak. Namun jawaban itu tidak membuat hati Moksa lega, justru kebalikannya. Moksa menangis seketika dan ia kembali bertanya. Jawaban yang diberikan ayahnya tetap sama. Moksa mengaku malu, dan ia meminta ma’af karena ia tidak bisa menjaga kepercayaan sang ayah. Moksa berpikir bahwa ayahnya tidak akan percaya lagi padanya, namun ternyata Moksa keliru. Itulah yang membuat Moksa malu terhadap ayahnya. Kemudian Moksa meminta ayahnya memberikan kesempatan dan kepercayaan bahwa ia akan berubah menjadi lebih baik. Pak Subianto yang berprofesi Dokter tersebut akhirnya sangat senang dan setuju dengan hal tersebut.
Di sisi lain, Dokter Subianto mempunyai perbedaan pandangan tentang nilai kepercayaan dengan istrinya. Ibu Subianto tidak ingin anaknya diberikan kepercayaan karena ia takut anaknya menjadi anak yang lebih parah kenakalannya. Tetapi Pak Subianto tetap akan memberikan anaknya kebebasan dan ia percaya anaknya dapat melewati persoalan dalam hidupnya dengan kepercayaan itu. Akhirnya dia berusaha melawan keegoisan dirinya sendiri, ia tahu kepercayaan itu baru bisa bekerja, kalau dia sendiri juga terlebih dahulu percaya. Dia tahu dengan kepercayaan Moksa dapat melawan semua itu dan kepercayaan itulah yang akan membantunya menyelesaikan persoalannya. Perdebatan mengenai perbedaan ini terjadi pada dialog seperti yang tertera di bawah ini:
"Kita harus memberi dia kepercayaan."
"Tapi...mungkin dia perlu uang!" Subianto menggeleng.
"Kepercayaan adalah segala-galanya. Itu lebih penting dari uang!" Wajah perempuan itu nampak semakin bingung. Ia mendekati suaminya, lalu mengembangkan tangannya. Di atas tangan itu Subianto melihat bungkusan plastik dengan bubuk jahanam. 
"Aku temukan ini di kamar mandi. Moksa pasti kelupaan." Dokter Subianto bergetar melihat barang-barang jahanam itu. Tetapi ia mencoba tenang. Hanya saja matanya tidak kuat. Nampak tetes air mata dari kedua mata yang sudah banyak diterpa kesedihan itu.
"Kita harus percaya dan menyerahkan dirinya kepada dirinya. Dialah yang paling bisa menjaga dirinya sendiri. Kita harus berhenti jadi polisi dengan memberinya kepercayaan. Inilah harapan kita sekarang, setelah semuanya gagal!" bisiknya sambil mencampakkan benda laknat yang sudah menghancurkan Moksa itu.
"Kita lawan semua ini dengan kepercayaan." 
"Tapi apa bisa hanya dengan kepercayaan, Pa? Moksa sudah parah!"
"Kamu kira aku percaya pada semua ini? Tidak, Bu. Aku juga tidak percaya. Tapi kita harus percaya. Kita harus percaya Moksa akan bisa melawan itu semua. Dengan memberinya kepercayaan kita akan membantu ia keluar dari persoalannya. Harus, betapa pun kita tidak percayanya. Harus Bu!"
Istri Subianto terdiam, sementara Subianto sendiri berusaha melawan dirinya sendiri. Ia tahu kepercayaan itu baru bisa bekerja, kalau dia sendiri juga terlebih dahulu percaya.
Di dalam cerpen ini bisa kita tarik bahwa bukan hanya ma’af yang dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah tetapi memberinya kesempatan dan kepercayaan agar mampu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Semakin sering atau semakin banyak beban tugas yang kita pertanggungjawabkan berarti kepercayaan orang kepada kita sangatlah besar, dan itu musti kita syukuri, karena kemampuan yang besar akan melahirkan tanggung jawab yang besar. Namun bagaimana kita bisa mempertahankan suatu “kepercayaan” itu sehingga ia bisa melekat dalam diri kita? Padahal menerima suatu kepercayaan lebih sulit dibandingkan memberi suatu kepercayaan. Ketika suatu kepercayaan itu kita terima dari orang lain, maka kita musti mampu untuk mewujudkan kepercayaan tersebut menjadi sebuah rasa simpatik.
Ketika kepercayaan itu diabaikan apa yang terjadi? Mungkin satu, dua atau tiga kali orang masih mau memberikan kepercayaan lagi. Namun ketika terjadi kesalahan yang sama apakah kepercayaan itu masih bisa kita dapat kembali? Bisa dipastikan ia akan pergi bahkan akan menimbulkan rasa empati bagi orang yang memberi kepercayaan tersebut, meski suatu ketika kita melakukan hal yang benar, akan tetap minus di mata orang tersebut. Jadi betapa besar arti kepercayaan itu di mata dan hati setiap orang. Hal ini karena tidak ada orang yang mau dibohongi bahkan dikecewakan apalagi hal itu terus berulang dan kesalahan yang sama. Jadi ketika kita menerima suatu kepercayaan sudah semestinya kita mampu menjaganya, seperti kita menjaga dan merawat diri kita sendiri, sehingga ia akan menjadi sesuatu yang mulia dalam hidup. Seberapa pentingkah arti kepercayaan, itu tergantung dari seberapa besar hati kita untuk memuliakan orang lain. 
Sikap dokter  Subianto dalam cerpen ini memberi pelajaran penting sebagai orang tua. Dalam mendidik anaknya, dia menghilangkan sikap sebagai polisi yang selalu mengawasi dengan memberi modal kepercayaan, agar dapat menyelesaikan masalah dan lebih bertanggungjawab atas perbuatan yang dilakukan anaknya sendiri. 
Begitu pula Moksa sebagai seoarang anak yang menghormati orang tua, dengan perasaan bersalah dia mulai berusaha untuk bisa menjadi lebih baik atas kepercayaan yang telah diberikan kepadanya. Dia tahu, walaupun setiap orang ada hak, namun juga tidak luput dari tanggungjawab dan kewajiban. Meskipun seorang anak mendapat kebebasan dari orang tuanya, seorang mahasiswa mendapat kebebasan dari dosen, seorang pejabat menerima kebebasan dari atasannya, bukan berarti semua itu tidak ada batasan. Jangan berpikir bahwa ketika seseorang hidup layak setara dan sesuai dengannya, maka ia bebas melakukan segalanya. Karena segala sesuatu  belum tentu sesuai dengan harapan kita. Oleh karena itu, sebuah masalah akan muncul bila harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Manusia hidup bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, tetapi hidup juga untuk memenuhi kebutuhan sesama. Untuk memenuhi kebutuhan sendiri manusia harus hidup dengan orang lain. Ibarat pepatah, “Hargailah dirimu sendiri sehingga orang lain menghargaimu dan berilah serta jaga kepercayaan orang lain hingga kamu menjadi mulia”.  .
Sungguh cerpen buah karya Putu Wijaya ini memberi solusi dalam membangun keluarga dengan rasa saling percaya. Keluarga akan berkualitas apabila terdapat hubungan yang harmonis antara orangtua dan anak-anak, serta dibangun atas dasar cinta dan kepercayaan (love and trust). Sedangkan cinta merupakan kolaborasi ketulusan dan keikhlasan, sehingga melahirkan rasa percaya dan hormat (trust and respect). Bila dalam keluarga harus terjadi perpisahan sementara untuk kebaikan keluarga atau kebaikan masyarakat, maka pada dasarnya kembalinya adalah kepada diri sendiri
Cerpen Moksa ini juga tidak berlaku asas resiprositi dan mutual benefit hubungan antara orangtua dan anak. Asas resiprositi mengajarkan bahwa kalau kita diberi sesuatu maka sudah sepantasnya berbuat hal yang sama kepada pemberi. Sedangkan mutual benefit mengajarkan kalau kita melakukan kerja sama maka harus jelas keuntungan apa yang akan didapat dari kerja sama itu. Dalam keluarga asas-asas itu tidak pernah diperhitungkan oleh orangtua terhadap anaknya. Yang ada hanyalah sikap dan perilaku ”saling”, yaitu saling mengisi, melengkapi kekurangan, menutupi kesalahan, percaya, mendukung, mengalah, tenggang rasa, pengertian, membantu, memaafkan, peduli, dan melindungi. Tanpa saling menyakiti atau menzalimi yang lain.
Menciptakan keluarga harmonis bukan hanya batu pijar terakhir dalam keluarga melainkan sebuah proses dalam konteks yang saling berkaitan antara sifat emosional, kecerdasan masing-masing individu dalam keluarga, kebersamaan dan tanggung jawab yang mereka pelihara. Dalam hal ini suami-istri yang sebagai penopang terbentuknya keluarga seharusnya menyadari apa yang harus mereka lakukan dan apa yang tidak. Mereka menjadi tauladan bagi anak-anak mereka agar kelak anak-anak mereka mengerti bagaimana indahnya sebuah keluarga yang harmonis dan sejahtera tercipta. Dan suami-istri juga sebagai pendidik atau pembimbing untuk mengontrol anak-anaknya supaya mengarahkan mereka ke arah yang positif dan lebih bermanfaat, serta bagaimana cara berinteraksi dengan masyarakat sekitar agar lebih padu dan tidak ada saling ketertutupan diantara sesama. 
Dalam cerpen ini sekaligus juga mengajarkan fungsi keluarga, ialah merawat, memilihara, dan melindungi anggotanya (khususnya anak) dalam rangka sosialisasi agar anak mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial. Dalam lingkup keluarga sangat perlu sebagai orang tua mengajarkan anak-anaknya bagaimana kita bersifat, bersikap, bergaul dalam masyarakat sekitar tentunya itu akan membawa dampak yang positif dalam perkembangan mereka.
Kesimpulannya bahwa dalam cerpen Moksa ini, semuanya dikupas dengan isi yang pas, tajam, dan mengandung arti. Penulis mampu memberi sesuatu bagi pembacanya, seperti pengetahuan, pengalaman, kegembiraan, pandangan, untuk mengajarkan kita dalam memberi dan menerima sebuah kepercayaan dari orang lain. Hal ini menjadi sebuah renungan bagi kita semua, dibuktikan begitu besar arti sebuah kepercayaan itu sendiri. Bukan saja kepercayaan terhadap Sang Pencipta, tetapi juga kepercayaan terhadap hubungan sesama insan-Nya, baik kepercayaan dengan orang lain maupun dalam keluarga sendiri. Jadi intinya, tanpa adanya saling percaya satu sama lain, keharmonisan hidup dalam keluarga maupun sosial bermasyarakat jauh dari angan.




RIWAYAT PENULIS
Wahyu Saputra, lahir di Sungai Lintang 14 September 1987, Kecamatan V Koto, Kabupaten Muko-muko Provinsi Bengkulu. Tamat SDN 02 di kampung halamannya (1999), terus dia melanjutkan pendidikan di MTsN Agung Jaya di daerahnya (2002). Keterbatasan biaya memaksa dia menganggur untuk sementara waktu, kemudian melanjutkan pendidikannya di SMAN 02 Lubuk Pinang (sekarang SMAN 05 Muko-muko) (2007).”Jika ingin mengalahkan orang lain, terlebih dahulu cobalah belajar mengalahkan diri sendiri” itulah motto hidup mahasiswa berzodiak Virgo ini. Mahasiswa yang pernah meraih juara 2 MTQ dan 1 Adzan Tingkat Remaja Se-Kecamatan Lubuk Pinang Muko-muko dimasa SMA lima tahun yang silam ini, juga pernah kuliah di AIM, AMIK, STMIK Jayanusa jurusan Diploma 1 (D1) Informatika Komputer. Sekarang dia sudah duduk di semester lima menggeluti pendidikan S.I jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang. Selain sibuk kuliah ia juga aktif berorganisasi dilingkungan internal kampus maupun  eksternal kampus UNP, antara lain, IMALIKO ”Ikatan Mahasiswa Limo Koto Muko-muko” (2008-Sekarang), DPUBKOM FKPWI FBS UNP (2008-2009), DS2I FKPWI FBS UNP (2009-2010), INFOKOM HMJ BASINDODA FBS UNP (2009-2010), dan  SKK GANTO UNP (2010-2011). Jika ingin memberi kritik atau saran, hubungi:  wahyuku87@yahoo.com.

Essay 39 (Kritik Sastra)



IDEOLOGI  DALAM  PEREMPUAN TUA
Oleh Mira Wahyuni

DI DALAM cerpen “Rintrik” (judul sebenarnya berupa sebuah gambar jantung tertusuk anak panah dan meneteskan darah). Yang dikenal dengan “Rintrik”, sebenarnya mengacu pada nama tokoh ”Rintrik” yang digambarkan sebagai seorang perempuan tua yang buta. Tokoh "Rintrik" adalah seseorang yang memiliki keagungan budi dan kekuatan iman. ”Rintrik” merupakan simbolisasi dari nilai-nilai kebenaran yang dalam kodratnya harus berhadapan bahkan berperang melawan kebatilan. Itulah yang ingin diungkapkan oleh pengarangnya di dalam cerpen ini.
Kehadiran ”Rintrik” di lembah tempat pembuangan bayi-bayi manusia yang baru dilahirkan itu diibaratkan sebagai kedatangan seorang nabi atau rasul utusan Tuhan yang mengemban tugas untuk membebaskan dan memperbaiki budi manusia yang rusak. Ia sekaligus menjadi gambaran seseorang yang membawa nilai-nilai kebenaran di dalam dirinya.
Kehadiran ”Rintrik” sebagai simbol kebenaran yang betarung menghadapi kebatilan oleh Danarto digambarkan melalui keberadaan lembah yang pada mulanya dahulu merupakan tempat yang memiliki keindahan dan menakjubkan luar biasa, telah berubah menjadi tempat yang buruk, angker, dan menyeramkan. Lembah yang semula menjadi tempat tujuan orang untuk liburan, santai dari kepenatan hidup sehari-hari, kini menjadi ajang tempat pembuangan bayi-bayi hasil perbuatan keji manusia. Nilai-nilai kebatilan tergambar jelas dan utuh melalui tokoh Pemburu, sebagai antagonis di dalam cerpen ini, dan secara tersirat melalui kebejatan moral orang-orang kota yang membuang bayi-bayi hasil perbuatan mesum mereka ke lembah itu.
Keberadaan ”Rintrik” yang buta tidak lagi merupakan keberadaan manusia. Hal ini tergambar dari kemampuannya yang melebihi manusia biasa, bahkan nabi dan rasul sekali pun. Hal ini terlihat dari ucapannya kepada para petani, ketika hampir sebagian besar orang yang datang membawa bingkisan berupa makanan, buah-buahan, nasi dan lauk-pauknya, kain, tikar, dan sebagainya. Tetapi segala bingkisan itu ditolaknya dengan rendah hati dengan mengatakan.
“Masan kalian tidak tahu. Apa yang harus dimakan oleh benda mati, kecuali tidak ada? Seandainya ia masih membutuhkan makanan, udara yang lewat sekelilingnya sudah cukup bukan?”. 
Dalam cerpen ”Rintrik” ini sangat terlihat kreatifitas dan imajinasi pengarang, yang begitu cepat berganti antara dunia nyata dan dunia imajinasi pengarang, yakni bukanlah kehidupan yang benar-benar terjadi di  luar dunia nyata yang kita temui sehari-hari. Danarto pada cerpennya ini menunjukkan tentang keyakinan, kepercayaan atau ideologi untuk masuk ke dalam dunia yang memang bukan dunia manusia kita sehari-hari. 
  Sebuah karya sastra merupakan suatu ekspresi yang lahir dari jiwa pengarang. Di dalam cerpen Danarto yang berjudul Gambar Hati Terpanah mempunyai gaya khas tersendiri baik dalam tema, peceritaan, penggunaan tokoh-tokohnya maupun kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang ada dalam isi cerita pendek ini, ini terlihat dari gagasan, keyakinan dan kepercayaan tokoh-tokoh yang ada dituangkan oleh Danarto dalam cerpennya  yang berjudul “Rintrik” ini.
Dalam cerpen ini, mengandung ideologi atau keyakinan dan kepercayaan tokoh yang  menonjolkan mistik. Kemistikan-kemistikan dalam cerpen ini ditampilkan oleh Danarto melalui tokoh, gaya penceritaan, tema, dan mistik yang diwujudkan menjadi lambang. Seperti:
1. Mistik yang Ditampilkan Melalui Tokoh
Tokoh yang ditampilkan danarto dalam cerpen ini adalah bukan manusia biasa yaitu manusia yang perbuatan dan pengalamannya melampaui kesanggupan manusia biasa. Hal ini dapat terlihat dari jawaban seorang tokoh utama (Rintrik) atas pertanyaan seorang yang menanyakan dengan apa ia makan selama ini. 
Berikut kutipanya:
“Masa kalian tidak tahu. Apa yang harus dimakan oleh benda mati, kecuali tidak ada? Seandainya ia masih membutuhkan makanan, udara yang lewat sekelilingnya sudah cukup bukan?” (halaman 23).
Dari kutipan tersebut terlihat bahwa seorang nenek tua itu menyebut dirinya hanyalah sebagai benda mati yang digerakkan. Maksudnya, dia hidup karena ada yang menghidupkannya meskipun tanpa makan dan minum tidak selayaknya manusia biasa.
2. Mistik yang Diungkapkan Melalui Gaya Penceritaan.
“Engkau seorang ibu yang lembut, Rintrik, ”kata pemuda sambil menghela nafas dalam-dalam. “Berapa anakmu?” “Aku tak beranak dan tak diperanakkan. Dari sabda aku lahir. Aku bukan manusia. Namaku benda mati atau debu atau batu tidak berwarna tidak berbau. Dan manakala perjalananku sampai di jantung-Nya, disitulah aku sesungguhnya menyatu. Aku lenyap. Alam semesta lenyap. Seluruhnya diserap lenyap.” (halaman 22). 
 Kutipan di atas menunjukkan bahwa tokoh Rintrik yang pekerjaan sehari-harinya menguburkan bayi-bayi hasil perzinahan orang lain bukanlah manusia biasa. Tokoh semacam ini jarang kita jumpai pada cerpen-cerpen pengarang lain. Suasana mistis sangat terasa ketika Rintrik merasa bersatu manakala perjalanan sampai di jantung-Nya.
3. Mistik yang Menjadi Tema.
Dalam cerpen ini memuat pandangan dan cita-cita pengarang tentang kehidupan ini khususnya tentang dunia kebatinan atau mistik. Masalah-masalah yang dikemukakan diukur dengan ajaran mistik. Tentang pembebasan batin dari jasmani atau dunia inderawi terdapat pada tokoh Rintrik, perhatikan kutipan berikut: Alam semesta dan isinya adalah kematian abadi, karena bergerak hanya karena digerakkan. Bukan bergerak sendiri. Aku adalah salah satu penghuni alam semesta ini. Aku adalah benda mati. Mana mungkin benda mati bisa merasakan penderitaan dan kebahagiaan. (halaman 27).
Dalam pandangan mistik Jawa jalan ke kemurnian itu ditempuh dengan mengadakan jarak diri pribadi dengan aspek material. Pandangan tokoh Rintrik tentang kemurnian terdapat pada: 
“Di luar badai masih menggila dan terdengar sebatang pohon kelapa roboh. “Pertanda apakah ini semua, Rintrik?” Tanya seorang laki-laki tua.
“Hilangnya kemurnian”.
“Apakah kemurnian itu?”
“Kemurnian adalah sesuatu yang mulus, semacam keikhlasan yang tulus atau semacam batang padi yang timbul tanpa pamrih, apakah ia akan didera oleh penyeleweng-penyeleweng atau menjadi makanan seluruh rakyat. Ia tidak usah memikirkan itu…….” (halaman 18).
 Percakapan-percakapan Rintrik menunjukkan pandangan mistik tentang kehidupan. Proses perjalanan mistik ini sampai pada puncaknya ketika Rintrik menyatakan keinginan yang terakhir. Perhatikan kutipan berikut:
Suasana sudah pada puncaknya.
“Untuk terakhir kalinya, apa keinginanmu?”
“Syahwat yang besar sekali.”
“Apa itu?”
“Melihat wajah Tuhan. (halaman 32).
4. Mistik yang Diwujudkan Menjadi Lambang.
 Di dalam cerita pendek ini banyak dijumpai simbol-simbol yang berfungsi untuk menerangkan dan menarik pembacanya agar menimbulkan rasa ingin tahu. Berikut ini contoh perlambangan yang terdapat dalam cerpen yang tidak menggunakan judul kata, yakni gambar hati terpanah. Menurut pengarangnya simbol itu yang paling kena untuk cerpen ini. Pengarang mengatakan bahwa simbol itu menunjukkan: 1) syahwat murahan yang digambarkan oleh pengemis dan kaum gelandangan di tembok-tembok pasar, lorong-lorong gelap: 2) cinta cengeng yang diimpikan oleh para teenagers kota-kota besar: 3) percintaan yang artistik dan kreatif oleh para seniman dan cendekiawan: 4) ma’rifat dan hikmat ketuhanan yang diimpikan oleh para rasul, nabi, wali, dan sufi. Tokoh utama cerita ini bernama Rintrik. Mengenai keadaan dirinya, pengarang melukiskan sebagai berikut:
             Ia berada di tengah prahara itu dengan tentram bagai bayi tidur dalam buaian, tidak terusik sedikit pun oleh petir yang sambar-menyambar di atas ubun-ubunnya. Melihat cara kerjanya itu tentulah ia memiliki kekuatan jasmani yang luar biasa. Orang setua itu! Perempuan dan buta! Di dalam badai! Masih bekerja lagi. (halaman 12).
            Ideologi atau kepercayaan inilah yang ingin diungkapkan oleh Danarto kepada pembaca dalam cerpennya yang berjudul “Rintrik” walaupun sebenarnya judul dari cerpen ini hanya gambar hati terusuk panah, tapi orang-orang banyak menyebut cerpen ini dengan judul rintrik, pada cerpen ini unsur ideologi atau kepercayaan mistiknya sangat kental dan menonjol sekali, hal ini juga terungkap dari  judul dalam cerpen ini yang tidak menggunakan kata-kata tapi justru menggunakan gambar hati yang terpanah. 





RIWAYAT PENULIS
Mira Wahyuni merupakan cewek kelahiran Padang 09 Juni 1990, seorang mahasiswi di Universitas Negeri Padang di Sumatera Barat. Saat ini Mira biasa ia di panggil oleh teman-teman sudah duduk di semester 5 bangku perkuliahan. Mira termasuk gadis yang sedikit pemalu sejak kecil, sampai saat sekarang ini sifat ini masih sangat melekat pada dirinya, tapi jika telah kenal denganya ia termasuk anak yang periang, supel dan asyik.

Essay 38 (Kritik Sastra)



ARTI SUCI DALAM PEREMPUAN SUCI
Oleh Meri Eka Putri

DALAM novel perempuan suci ini sentimental dan sangat mengharukan. Novel ini terjadi di negeri Pakistan yang eksotis, kisah ini menceritakan seorang perempuan muslim jelita yang berkali-kali menolak lamaran laki-laki sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang pemuda yang tampan bertempat tinggal di Kurachi bernama Sikander. Lelaki yang bernama Sikander ini bertamu kerumahnya Jafar (adiknya Zari Bano) yang memperkenalkan Sikander  dengan kakaknya yang cantik ini Zaribano akan tetapi pada mulanya Sikander  ini orangnya begitu cuek tidak peduli apa yang ada disekitarnya. Padahal Zaribano selalu memperhatikannya dan mengajaknya gobrol tetapi Sikander tidak peduli, itu yang membuat Habib Sahib Ayah Zaribano tidak menyukainya karena dia takut kalau Sikander itu melukai hati anak yang disayanginya itu. Lain pada ibunda Zaribano sangat senang melihat anak tercintanya menemukan pilihannya.
Dengan tekat yang kuat Jafar dan ibunya Zaribano pergi membawa Zaribano ke Kurachi tempat  tinggalnya Sikander sekaligus menjalani bisnis disana. Ketika itu Zaribano bersusah payah mengambil hatinya Sikander tetapi Sikander tetap terlihat cuek bagaimana awal pertemuan mereka dan pada akhirnya malah Sikander yang melamar Zaribano. Dengan perasaan bahagia Zaribano mengiyakan lamaran Sikander itu, dan Zaribano mengabari ayah dan ibunya di propinsi Sindu di daerah perbatasan sebuah kota kecil. Ayahnya langsung kaget ketika putrinya mengatakan akan segera menikah dengan Sikander pemuda yang dianggapnya posesif itu, tetapi ketika itu juga  anak pewaris seluruh harta kekayaan Habib Sahib pun yaitu Jafar meninggal. Ketika Jafar meninggal inilah keluarga Habib Sahib pun mengalami banyak cobaan.
Meningganya Jafar berarti larangan buat Zaribano menikah, karena adat tradisi Habib Sahib ini apabila anak lelakinya itu meninggal jadi anak pertama perempuan yang mendapatkan seluruh harta warisan itu yaitu menjadikan Zaribano perempuan suci atau Shahzadi ibadat. Zaribano menolak permintaan ayahnya itu dia tidak mau menjadi perempuan suci karena dia telah menerima lamaran dari Sikander tetapi ayahnya tidak mau tahu, apapun alasannya dari mulut Zaribano. Semenjak Jafar meninggal ayahnya yang baik dan bijaksana itu berubah menjadi sosok yang menakutkan karena dia belum pernah melihat ayahnya semarah ini. Zaribano pun berfikir sejenak dengan hatinya yang kalut, pikirannya yang kacau dan air mata membasahi pipinya dia pun mulai berfikir menjadi  seorang  perempuan suci dan pada akhirnya dia pun tidak bisa menolak apa permintaan ayahnya, karena dia tidak mau membuat keluarganya kecewa. Ibunda Zaribano terpukul mendengarnya tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa hanya doa yang bisa dia berikan.
Akhirnya hari-hari peresmian Zaribano menjadi perempuan suci pun datang dan dia pun diresmikan menjadi perempuan suci. Alangkah kagetnya semua yang ada di desa mendengar wanita yang sangat cantik itu menjadi perempuan suci termasuk Khanis ibundanya Khawar yang ingin sekali Zaribano itu menjadi menantunya. Api asmaranya bersama Sikander pun dipaksa padam,justru pada saat mereka merenguk cinta dan menjadikan Zaribano perempuan suci yang hanya menikah dengan Al-Quran. Yang paling menyakitkan bagi Zaribano yaitu Sikander malah meyakini adiknya Ruby, selama bertahun-tahun, amarah, kesediahan dan perang bathin Zaribano tersembunyi rapi dibalik surga hitam yang membungkus tubuhnya. Pada akhirnya Ruby adik Zaribano pun meninggal saat melahirkan anak pertamanya. Setelah lama kematian Ruby, Zaribano pun dinikahi bersama Sikander selama setahun. Selama setahun itu Zaribano pun menikmati masa-masanya berdua bersama Sikander, alangkah bahagianya hati Sikander akhirnya dia mendapatkan cinta sucinya walau pun itu hanya setahun.
Itulah kisah Zaribano dan arti suci dalam perempuan itu sendiri, arti suci yang mengartikan tidak menikah hanya Al-Quran yang boleh ia nikahi tetapi pas kematian saudaranya dia harus menggantikannya selama setahun saja dan tidak boleh melepaskan jubah hitamnya tersebut. Inilah kebaktian Zaribano kepada sang ayahnya, dia rela melepaskan cinta sucinya demi keluarga tercintanya. Ayahnya yang pada mulanya keras sekarang tidak lagi, dia merasa sangat beruntung mempunyai anak seperti Zariano, ini sebuah cerita yang menawan tentang cinta, ketamakan kecemburuan. Novel ini begitu sempurna sekali dalam novel arti Suci dalam Perempuan Suci ini. Terlihat di desa itu banyak masyarakat disana mencintai Zaribano karena selain dia cantik, baik, parasnya yang anggun membuat warga disana menyukainya.




RIWAYAT PENULIS
Nama       : Meri Eka Putri
NIM/BP : 04539/08
Jurusan : Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah
Hobi : Menulis cerpen dan bermain voliball
Cita-cita : Ingin menjadi orang yang di banggakan
Moto : Hidup santai masa depan cerah

Essay 37 (Kritik Sastra)



PESONA BAHASA SUPERNOVA AKAR
Oleh Devi Marlina

SEBUAH karangan yang diramu dengan bahasa yang indah akan menghasilkan karya sastra yang digemari pembacanya. Keunikan karya sastra tidak akan pernah lepas dari bait-bait kata yang dirangkai menjadi kalimat yang menarik. Kekhasan sebuah karya sastra pun akan tergambar dari kemahiran penggunaan bahasa oleh pengarang, terutama novel. Novel biasanya terdiri lebih dari 50 halaman. Jika novel yang terdiri dari sekian banyak halaman tidak diramu dengan bahasa yang menarik, akan membuat pembaca cepat bosan bahkan tidak akan mau membaca novel tersebut lagi.
Bahasa yang menarik, dengan pilihan kata yang tepat serta bervariasi dalam sebuah novel, memberikan kesan tersendiri pada pembacanya. Keindahan bahasa sebuah novel membuat penikmat sastra tersebut ingin dan ingin terus membaca karya tersebut. Memang benar keindahan sebuah novel tidak hanya bergantung pada bahasa yang digunakan, tetapi juga alur dan ide cerita yang dikemas secara apik. Tidak dapat dimungkiri, jika alur cerita tidak disajikan dengan bahasa yang menarik, maka jalan cerita akan sulit dipahami atau bahkan membosankan bagi pembacanya.
 Gaya penulisan novel dengan mengunakan pencampuran bahasa antar negara menghasilkan kekhasan pada novel tersebut. Bagaimanapun juga, penggunaan bahasa akan memperlihatkan kepintaran pengarang dalam meramu idenya. Seperti novel Supernova Akar karya Dewi Lestari. Supernova adalah novel yang memiliki warna tersendiri dalam penyajian dan alur ceritanya. Dalam penyajiannya, Supernova menggunakan beberapa bahasa seperti, Indonesia, Inggris, dan beberapa bahasa negara lain serta bahasa daerah di Indonesia. Novel dengan menggunakan pencampuran bahasa akan menambah keunikan novel tersebut. Memang, pada novel ini masih didominasi oleh bahasa Indonesia, akan tetapi penggunaan bahasa negara lain oleh tokohnya akan menambah pengetahuan pembaca tentang bahasa negara lain.
Dalam novel ini, tokoh utama (Bodhi) berpetualang keberbagai negara hanya untuk mencari kesejatian yang sesungguhnya. Pertualangan tokoh utama mengharuskan dia mengunakan berbagai bahasa. Penyajian novel seperti ini untuk kepenulisan novel merupakan tren baru dalam karya sastra. Dalam hal ini, bagi pembaca sebagai penikmat karya sastra, ketidak mengertian terhadap apa yang dibacanya akan mengurangi nilai sastra itu sendiri. Bagaimanapun penilaian suatu karya menarik apa tidaknya terdapat pada pandangan pembaca terhadap karya itu. Pada Supernova Akar ini, Dee terlalu sering menggunakan bahasa asing sehingga bagi pembaca yang tidak memiliki pengetahuan tentang bahasa tersebut akan mengurangi kenikmatan terhadap novel ini. Memang mengerti atau tidaknya pembaca terhadap bahasa asing tersebut, alur cerita Supernova Akar ini masih bisa diikuti oleh pembaca.
Supernova Akar ini, juga terkesan menggunakan bahasa yang blak-blakan. Di sini Dee terlihat berusaha menggunakan ungkapan secara langsung tanpa ada basa-basi seperti bahasa yang sering digunakan dalam tokoh utama novel ini. Salah satunya terlihat dalam kalimat Sinar matanya yang tadi garang, melembut, gelagapan ia sibuk menelan dahak. Sangat terlihat sekali dalam bahasa yang digunakan Dee, menginginkan sesuatu yang biasanya dianggap kurang sopan, jorok, atau dianggap tabu jadi terlihat sesuatu yang biasa-biasa saja. Penggunaan bahasa yang semacam ini disesuaikan Dee dengan karakter dan latar novel Supernova Akar ini. Bodhi seorang yang tinggal diberbagai tempat termasuk dijalanan dan bergabung dengan sebuah geng, serasi jika menggunakan bahasa yang blak-blakan.
Penyampaian maksud dengan hiperbola sangat terkesan dalam Supernova Akar. Uniknya, walaupun penggunaan hiperbola secara berlebihan, tetapi karya Dee yang satu ini tidak terkesan memuakkan atau berlebihan. Penyajiannya benar-benar apik.
Selain bahasa yang menarik, Supernova adalah novel yang memiliki ide cerita yang luar biasa atau boleh dikatakan diluar kebiasaan. Di sini tokoh utama Bodhi di cerikan sebagai orang yang memiliki kemampuan luar biasa, mungkin Indera keenam. Dia dapat melihat hal-hal ghaib, mengalami kejadian-kejadian aneh, bahkan ia dapat merasakan apa yang dirasakan hewan saat akan disembelih. Kejadian yang dialami tokoh utama ini merupakan kutukan terhadap dirinya yang merupakan orang paling jahat dimasa lampau. Bodhi yang sekarang adalah reinkarnasi dari dirinya yang dahulu terlahir kembali untuk menerima balasan terhadap perbuatannya dimasa lampau. Untuk menghilangkan kutukan ini Bodhi berusaha untuk pergi sejauh mungkin dari Vihara, tempat ia ditemukan dan dibesarkan. Vihara adalah tempat tinggal para biksu. Di sana ia diasuh oleh guru Liong, seorang biksu. Kejadian aneh pada tokoh utama ini sudah terlihat semenjak kecil. Semakin jauh dia pergi dari Vihara, maka semakin memudar kutukan tersebut.
Ide ceritanya sangat menarik, penuh dengan imajinasi-imajinasi yang membuat pembaca akan ikut merasakan imajinasi-imajinasi tokoh. Cerita yang sulit diterima akal sehat tapi bagi orang yang mempercayai dunia mistik, membaca novel ini akan membuat merinding. Penuh ilusi dan tanda tanya.
Sopernova Akar, khayalan tingkat tinggi. Dee begitu lihai menyajikan ide ceritanya. Kejadian-kejadian yang disajikan dalam novel runtut dan dipaksa untuk diterima akal. Sedikit hal yang aneh dari novel ini adalah pada awal cerita dimulai dengan sapaan orang Islam terhadap Islam lain. Assalamualaikum w.w dan dijawab oleh tokoh utama Wa’alaikummussalam w.w. Padahal dalam alur ceritanya, tokoh utama adalah seorang Budha. Tidak jelas apa motif Dee memasukkan kata sapaan orang Islam dalam novel ini. Selain itu, alur ceritanya juga sedikit ganjil. Apa yang menyebabkan tokoh utama berpetualang keberbagai negara disajikan dengan jelas, tetapi apa motif tokoh utama kembali ke Indonesia lagi tidak jelas. Diakhir cerita terlihat dipaksakan tokoh utama telah berada di Indonesia. Jadi jika Dee bermaksud mengambil setting di luar neggri itu terasa lebih cocok dengan novel ini ketimbang memaksakan tokoh utama adalah orang Indonesia. Sangat terasa ganjil, tiba-tiba tokoh utama telah berada beberapa tahun di Indonesia. Penggunaan istilah-istilah gaul pun dalam Supernova ini tidak mencerminkan Indonesia, lebih cocoknya mengarah keluar negeri.
Dee terlalu memaksakan tokoh utama adalah orang Indonesia, sehingga alur cerita menjadi kurang menyambung dengan ide cerita awalnya. Lain halnya, jika Dee mengambil tokoh asing sebagai pemain utamanya, maka alur cerita tidak perlu dipaksakan berlatar belakang negara Indonesia. Dalam karya sastra pelataran harus disesuaikan dengan ide cerita. Pelataran yang tepat akan menghasilkan karya sastra yang terasa hidup dan dirasa benar terjadi.
Secara keseluruhan, Supernova Akar adalah karya sastra yang unik dan menarik serta penuh dengan teka-teki. Bagi pembaca yang ingin menambah pengetahuan tentang bahasa asing, Supernova Akarlah jawabannya. Novel ini menginspirasi pembaca untuk lebih banyak menguasai bahasa asing. Dengan menguasai berbagai bahasa, akan membuat seseorang bisa bertahan hidup dimanapun. Bahasa adalah pertahanan hidup. Dengan bahasa mempermudah dalam berkomunukasi dan berinteraksi dengan orang lain.





RIWAYAT PENULIS
Nama           : Devi Marlina 
NIM  : 04536/2008
Tempat/Tanggal Lahir: Pariaman, 23 Desember 1988
Hobi  : Menulis cerpen dan puisi (klo mood), wisata kuliner, mengkritisi hal yang dirasa ganjil
Motto           : Hidup adalah masalah, jadi jangan pernah takut dan lari dari masalah

Essay 36 (Kritik Sastra)



TERKUAKNYA TABIR PERCINTAAN, PERSAHABATAN, DAN PEPERANGAN
Oleh Novita Darmayanti

HARI pertama sekolah, “Ipung” itulah nama seorang anak laki-laki yang bersekolah di sebuah kota besar meski tidak sebesar Jakarta. Solo adalah kota besar bagi Kepatihan. Dan kota ini lebih besar lagi, sekarang aku di dalamnya. Sangat megah untuk ukuran matanya, jangankan di Kepatihan, di kota besar ini pun ia masih termegah. “SMA Budi Luhur”, ia memandang papan nama sekolahnya tidak percaya. Sejak MOS, sekali pun cewek kece itu belum meliriknya. Ipung menangkap dengan kilatan matanya. Gadis itu membesitkan senyum dikejauhan. “Paulin” ganti memburu dengan kilatan matanya. Tuhan, cowok kerempeng itu tidak punya cukup waktu memperhatikanku. Aku bukan tidak pernah melihatmu. Saat MOS dulu aku sudah melihatmu. Wajahmu meski tidak jelek, toh gagal untuk disebut ganteng. Kamu sama seperti yang lain. Kalau toh ada yang berbeda paling hanyalah gayamu yang sok nggak butuh. Sok menganggap orang lain tidak penting. Paulin mengeluh. Ia tidak menduga, kalau gaya itu sekarang menyiksanya. Pertemanan berlanjut sampai pada kedekatan antara Ipung dan Paulin. Paulin membawa Ipung untuk berkunjung ke rumahnya dan memperkenalkan kepada kedua orang tuanya. Paulin menarik nafas. Menyiapkan oksigen cadangan demi kegugupannya. Ayoo Paulin, ayoo. Sekarang atau tidak sama sekali. Ipung atau bukan sama sekali. Tapi ah itu soal nanti. Sekarang soalnya adalah ketenangan itu sendiri. Mereka harus melihatnya. “Saya jatuh cinta padanya.” Akhirnya kalimat itu meluncur dari bibir Paulin. Tenang. Jelas.
“Kamu sudah mulai jatuh cinta,”
“Yaa Mi. Dia kekasih saya.”
“Kekasih......” Mami terbata.
“Kamu...... kamu menyebutnya kekasih.....bukan pacar.....” kata Mami mulai serak.
Lirih sekali suara itu. Tapi terdengar pekak di kuping Paulin. Jelas sudah, orang tuanya menolak calon menantu yang belum pernah mereka lihat wajahnya itu. Nama saya Ipung, Om, Tante. Teman sekelas Paulin. Sama seperti Om dan Tante. Saya sendiri sangat kaget melihat Paulin mencintai saya. Bukan saya tidak bangga dicintai gadis sehebat Paulin.
“Om dan Tante tidak perlu khawatir tentang saya. Lingkungan saya mendidik saya menjadi begitu perasa. Sebelum orang lain menyinggung, saya biasa tersinggung dengan sendirinya. Ipung mempunyai banyak teman di sekolah. Salah satunya adalah Marjikun yang akrab di sapa Mar atau Jikun. Ipung dalam perjalanan menuju rumahnya.”
“Biar aku antar pulang,” sapa Marjikun. Ipung terdiam.
“Ayolah. Aku terkena hasutan Gredo. Aku minta maaf.”
Ipung menerima tangan Marjikun. Biasa saja. Marjikun salah tingkah. Dimusuhi atau diakrabi, cowok ini tetap dingin. Seperti es batu. Marjikun diam-diam mengeluh. Senewen, benci, gentar, campur hormat.
“Lupakan saja yang sudah-sudah. Kita semua teman,” kata Ipung lunak. Sok dewasa. ”Be....benar.”
Terjadi perperangan antara Ipung dengan Gredo. Gredo telah merusak sepeda Ipung.
Gredo terpaksa pindah kelas. Pak Bakri selaku guru adalah arsitek peristiwa ini. Dengan cerdik guru galak itu memaksa sendiri Gredo memilih sanksinya sendiri. Kalau anak itu tidak berinisiatif, Pak Bakri terhindar dari tuduhan tidak adil. Meski di atas kertas Gredo mencatat kesalahan lebih tinggi. Namun dosa Ipung juga tidak main-main. “Menghajar orang dengan pentungan masuk pasal penganiayaan. Termasuk sadisme!” Bentak Pak Bakri. Ipung makin menunduk mendengar vonisnya. Tapi ia meringis bahagia. Ia menagkap kecerdasan Pak Bakri dalam membelanya. Tidak ada ketakutan yang lebih ia pikirkan selain pindah kelas dan berpisah dengan Paulin. Pengertian yang telah diberikan Paulin kepada kedua orang tuanya telah melunakkan hati kedua orang tuanya. Alangkah bahagianya hati Paulin yang telah mendengar bahwa mereka berdua telah direstui. Semuanya berakhir bahagia antara cinta, persahabatan, dan juga peperangan telah becampur menjadi satu cinta yang abadi.

 
Design by Wahyuku Design | Bloggerized by Wahyu Saputra - Free Blogger Themes | Free Song Lyrics, Cara Instal Theme Blog