Selasa, 03 Januari 2012

Essay 35 (Kritik Sastra)



MATERIALITAS DALAM LASKAR PELANGI
Oleh Sesmita

NOVEL Laskar Pelangi menitikberatkan pandangan materi terhadap pendidikan. Di tengah hiruk-pikuk industrialisasi banyak yang menganggap bahwa pendidikan berkualitas itu membutuhkan biaya cukup mahal, apalagi dalam kondisi pendidikan nasional yang sedemikian pelik. Novel ini menjadi pil pahit bagi praktisi pendidikan yang menganggap bahwa pendidikan yang berkualitas harus mahal. Dengan hadirnya novel ini menambah daftar panjang buku yang mengangkat tema pendidikan dan memperjuangkan pendidikan yang berkualitas tidaklah harus mahal.
Kisah yang terangkum cukup elok dalam novel ini mengisyaratkan kita untuk bangkit dalam menatap masa depan pendidikan yang gemilang dan menghipnotis kesadaran, kecerdasan serta kemauan kuat untuk memaknai sebuah perjalanan hidup. Di dalamnya juga terdapat perjuangan dalam menuntut ilmu yang tiada pernah kenal lelah yang tergambarkan dalam sosok Lintang yang harus menempuh puluhan kilometer untuk berangkat sekolah setiap hari dengan mengayuh sepedanya dan melewati segerombolan Buaya yang ada di sungai. Namun, ia tetap semangat dan tidak gentar pada rintangan itu sedikitpun. 
Kisah yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi ini sungguhlah unik. Dimana segala sesuatu  tingkah laku seseorang ditujukan untuk ibadah dan dakwah. Ini terlihat dari tokoh pak Harfan dan Bu Muslamah yang menempatkan sarana pendidikan sebagai ladang ibadah sekaligus dakwah syiar Islam. Mereka telah puluhan tahun mengabdi di sekolah Muhammadiyah dengan nyaris tanpa imbalan apapun demi motif syiar Islam. Pak Harfan dan Bu Muslimah mampu mencuri kembali spirit ibadah dan dakwah. Tentunya hal ini sangat berbanding terbalik dengan tuntutan para guru saat sekarang yang cenderung lemah ketika kesejahteraannya tidak tercukupi. Karenanya, tidak ada suatu keteguhan jiwa. Sosok Pak Harfan dan Bu Muslimah menjadi suatu keajaiban atau mukjizat kemanusiaan. Mereka adalah kesatria tanpa pamrih, pangeran keikhlasan dan sumur jernih ilmu pengetahuan di ladang yang ditinggalkan. Spirit inilah yang sesungguhnya menjadi modal dasar dalam pergerakan dakwah. Tidak ada dakwah tanpa ada kesabaran, tidak ada ibadah tanpa keikhlasan, dan tidak ada gerakan tanpa sebuah pengorbanan. Kata-kata ini nampaknya dapat menggambarkan kisah guru-guru teladan produk orisinil bangsa Melayu yang ada dalam novel ini.
Dalam novel ini terdapat pandangan bahwa sesungguhnya yang dikenang oleh seorang murid bukanlah sebuah nilai A, B, dan C ataupun serentetan materi yang diberikan ketika mengajar. Akan tetapi suatu hal yang dikenang murid adalah beberapa mutiara kata yang keluar dari lisan seorang guru dan itu mencerahkan. Petikan paragraf yang menggambarkan hal tersebut  yaitu “Beliau menorehkan benang merah kebenaran hidup yang sederhana melalui kata-katanya yang ringan namun bertenaga seumpama titik air hujan. Beliau mengobarkan semangat kami untuk belajar dan membuat kami tercengang dengan petuahnya tentang keberanian pantang menyerah melawan kesulitan apapun.npak Harfan memberi kami pelajaran. Pertama tentang keteguhan, tentang ketekunan, keinginqn kuat untuk mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan kami bahwa hidup bisa demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban untuk sesama. Lalu beliau menyampaikan sebuah prinsip yang diam-diam menyelinap jauh ke dalam dadaku serta memberi arah bagiku hingga dewasa yaitu bahwa hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.” (halaman 20). 
Munculnya kata yang mencerahkan inilah yang menjadi landasan moral mereka hingga kapanpun dan dimanapun. Pada titik inilah kunci dari sebuah kualitas pendidikan. Justru dari sekolah gudang kopra yang mau roboh malah menjadi inspirasi moral yang begitu kuat bagi banyak pengamat maupun praktisi pendidikan.




RIWAYAT PENULIS
Sesmita lahir di Pekanbaru, 23 september 1990, adalah anak keempat dari empat bersaudara. Mengalami masa kanak-kanak, remaja dan sekolah di Bukittinggi, Baso. pendidikan yang ditempuh SD 01 Baringin Anam Baso, SLTP N 01 Candung, SMAN 01 Ampek Angek (Lambah Biaro). 
Sekarang menimba ilmu di Universitas Negeri Padang, jurusan Bahasa Indonesia dan Daerah dengan Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah. Nomor induk mahasiswa 04530/2008. Hobinya adalah membaca novel dan mendengarkan musik. Alamat Email i_shes@yahoo.com.

Essay 34 (Kritik Sastra)



KEBERADAAN MITOS DALAM NAZAR-NAZAR JIWA
Oleh Nova Sriwahyuni

MITOS  adalah ungkapan tardisional dari satu atau lebih syarat, dan satu atau lebih akibat, beberapa dari syarat-syaratnya bersifat tanda, sedangkan yang lainnya bersifat sebab. Mitos  juga salah satu kepercayaan seseorang terhadap hal-hal gaib pada zaman dahulu kala atau pada zaman nenek monyang, kepercayaan ini sangat sudah berangsur-angsur pudar tetapi masih banyak orang yang mempercayainya, sangat mustahil rasanya bila masih ada orang pada zaman modern ini percaya pada hal-hal seperti ini. Kepercayaan ini sangat dipengang teguh orang-orang dahulu.
Di sini Budi Sulistyo En-nafi terinsperasi mengangkat tema bukunya dengan tema masyarakat yang mempercayai hal-hal gaib karena ini adalah suatu hal yang mesti dikupas habis karena kepercayaan hal-hal gaib adalah salah satu kemusrikkan yang tidak bisa diterima taubatnya di sisi Allah. Kemusrikan yang  terdapat dalam buku ini: 
“Dengan mengocok-ngocok bilah Bambu yang telah dipasangi angka-angka dan saat bilah bambu itu jatuh maka diambillah sang penunggu lembaran ramalan yang sesuai dengan nomor bambu yang jatuh”.
Ramalan ini sangat dipercayai masyrakat Gunung Kawi, kepercaan ini terus menerus mereka lakukan untuk mendapat sesuatu hal yang ingin mereka capai. Walupun jawaban-jawaban yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan keinginan, keputusasaan masyrakat setempat tidak pernah ada bahkan mereka mengira itu  adalah kegagalan yang tertunda dan kegagalan ini membuat keyakinan pada hati mereka bahwa keberuntungan akan datang untuk menyambut. Pada hal Allah SWT telah berfirman, ”hai orang-orang yang beriman sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk), berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah termasuk perbuatan setan maka jauhilah perbutan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” 
Kepercayaan masyarakat dalam buku ini masih sangat kuat terhadap hal-hal ghaib, kepercayan ini membuat masyarakat jauh dari jalan Allah dan ini juga dapat disebut menyekutukan Allah, masyarakat ini meminta segala sesuatu yang mereka inginkan seperti meminta pada pohon besar, ramalan, batu nisan dan sebagainya dan melakukan spritual.
Apakah mereka tidak pernah berfikir atau memikirkan dengan apa yang mereka lakukan dengan mempercayai jatuhnya daun pohon dari sebuah pohon yang juga makhluk-Nya dengan nasib baik atau nasib buruk? Walaupun kejatuhan satu truk daun sekalipun, tapi malas kerja, apa mungkin bisa memperoleh keuntungan?, bahkan, ibaratnya bila kejatuhan pohonnya sekalian, tapi Allah menahan dan tidak memperkenakan dia dapat rizki, siapa yang akan menghalagi keinginan Allah? Sungguh, Allah telah memperingatkan mereka dengan firman-Nya, “atau, siapakah dia yang memberikan kamu rizki jika Allah menambah rizki-Nya? Sebenarnya, mereka terus menerus dalam kebohongan dan menjauhkan diri? “
“orang-orang mengantri, menunggu diberinya bungkusan atau kantong kuning dan merah berisi kembang makam. Katanya bisa buat pelaris, keberuntungan, atau bahkan penolak bala atau sial. Bungkusan itu bisa digantung di atas pintu, di tanam di tanah, atau dibawa kemana-mana”.
Kalau menurut saya hal di atas adalah sangat mustahil karena mana mungkin hanya dengan kembang bisa memberikan kita suatu keberuntungan dan dapat mengubah jalan kehidupan seseorang. Sedangkan nabi  saja tidak akan bisa mengubah jalan kehidupannya hanya dengan menyakinkan sesuatu hal itu tampa berusaha. “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sediri yang mengubahnya”. Jadi jika kita melakukan hal seperti hal di atas bukan keberuntungan yang kita datang malah sebaliknya kita akan dibenci oleh Allah dan tidak akan mendapat ridho-Nya.
Apabila kebudayaan ini masih terus menerus dibiarkan maka masyarakat akan semakin jauh dari Allah dan masyarakat juga tidak akan henti-hentinya meminta pertolongan kepada apa yang mereka lakukan selama ini. Semestinya, hubungan mitos yang terdapat dalam buku ini semacam ungkapan tradisional tetapi berbeda dengan ungkapan tradisional-tradisional yang lain seperti bahasa rakyat, nyayian-nyayian rakyat. Mitos berdasarkan asumsi kasadaran atau bukan kesadaran  mengenai syarat-syarat dan akibat, sebab dan akibat dalam dunia kehidupan sehari-hari. 
Kalau diperhatikan pada zaman sekarang ini hal-hal gaib dan melakukan ritual-ritual ini adalah hanya orang-orang bodoh saja. Karena dilihat pada zaman sekarang ini pendidikan sudah semakin maju, tekhnologi juga sudah semakin canggih tetapi bagaimana bisa kepercayaan ini masih melekat pada diri kita. Tetapi bagai manapun juga mitos yang bersifat gaib ini bukan berarti bisa hilang sepenuhnya dalam masyarakat karena mitos itu pada masyarakat Gunung Kawi adalah kebudayaan yang tidak mungkin ditinggalkan begitu saja, menurut masyarakat ini telah tercipta dari zaman nenek moyang mereka yang harus dijaga dan dipelihara hingga sampai saat ini.
Saya tidak ingin masyarakat tidak terlalu mempercayai hal yang semacam ini, jadi masyrakat seharusnya diberikan pencerahan seperti ceramah-cermah agama atau siraman rohani agar masyarakat semakin mendekatkan diri kepada Allah, mungkin dengan cara itu sedikit banyaknya masyarakat akan mulai memperhatikan agama dan mereka mulai  menyadari bahwa perbuatan yang selama ini mereka lakukan adalah salah dan dilarang oleh Allah. Buku ini baik sekali dibaca oleh kalangan banyak, karena di dalam buku ini kita akan banyak mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, dalam buku ini terdapat suatu kebudayaan yang pernah ada di Indonesia.
Akhirnya mitos dalam nazar-nazar jiwa ini sedikit banyaknya memang ada pelencengan dari agama Islam, namun bukan berarti mitos itu tidak pantas untuk dipercayai keberadaannya karena di dalam mitos kita juga bisa sedikit mendapatkan pelajaran.




RIWAYAT PENULIS
Nova Sriwahyuni Batu Bara, akrab dipanggil Nova Sriwahyuni atau Nova dari kecil sampai sekarang dalam pergaulan sehari-hari. Nova anak kelima dari enam bersaudara. Mempunyai dua saudara laki-laki dan tiga saudara perempuan. Ia lahir dan dibesarkan di Bangun Raya, tapi sesungguhnya orang tuanya berasal dari Simpang Lolo Pasaman Barat, karena itulah orangtuanya juga selalu mencantumkan marga di setiap nama anak-anaknya, yang berasal dari keturunan ayahnya. 
Ia dikenal sebagai orang yang yang cerewet oleh teman-temannya tapi mengasikkan dan karna kecerewetannya membuat dia banyak disukai teman-temannya. Terkadang cuek namun sebenarnya ia sangat peduli dengan dengan keadaan disekitarnya.

Essay 33 (Kritik Sastra)



DUNIA PERSONAL DALAM RECTO VERSO
Oleh Prasma Wulandari. NF

“RECTO Verso” bisa jadi obat untuk orang-orang yang selalu mengklaim dirinya logis, bahkan dalam urusan yang menyangkut perasaan, seperti cinta. Kadang-kadang, tidak ada gunanya menjadi sok kuat dan tidak memakai hati. Kadang-kadang kita lebih baik mempercayai apa yang tidak bisa dilihat. Kadang-kadang kita memeng harus berhenti mencari kalau semata hanya ingin mengerti. Buat apa memakai (hanya) logika kalau tubuh, jiwa dan roh tidak sinkron? Karena kalau tidak, kita bisa tersesat dalam pemikiran atau asumsi sendiri.
Cerita tersebut memberikan kita pengalaman emosional yang beragam dalam satu trip. Terkadang membawa kita membumbung setinggi awan, terkadang menghempaskan kita kebawah dengan cepat. Genggaman kita terasa seperti bar pengaman yang masih menghubungkan kita dengan dunia nyata. Cerita itu berbicara mewakili banyak insan. Menakjubkan, berhasil merangkum jeritan dan tangisan hati dalam simponi kata-kata yang indah namun tidak picisan. Memaksa kita untuk melepas genggaman tangan dari bar pengaman dan ikut menghilang sejenak. Mempersiapkan hati untuk menghadapi kenyataan.
Penulisan recto verso cenderung sangat puitis. Penokohan bukan hal utama, melainkan lebih ditekanakan pada penuturan yang personal layaknya catatan pribadi. Bisa dibilang, membaca Recto Verso sama seperti membaca kumpulan surat cinta. Recto Verso memang diharapkan dapat menyentuh hati pembaca sekaligus pendengar secara dalam dan personal.
Menikmati Recto Verso seolah membaca kisah hidup sendiri, membuka jiwa saat mulai membaca tiap fiksinya dan diakhiri dengan mendengar lagu-lagunya. Melihat tiap cerita dari dua sudut penokohan yang berbeda, dari dua dunia yang seakan terpisah dan dari dua sisi yang menyatu dalam Recto Verso.
Malaikat juga tahu merupakan salah satu andalan dalam Recto Verso yang diangkat dari kisah seorang bunda yang sangat mencintai anaknya yang mengidap autis, yang mencintai seorang gadis yang ternyata dicintai juga oleh adik Si Abang yang autis. Membaca fiksinya, menceritakan sisi Si Gadis yang juga menyayangi Abang karena sudah dianggap sebagai saudara tetapi tidak mencintainya untuk dijadikan pasangan hidup. Ia memilih untuk mencintai adik walaupun bunda meyakinkannya bahwa cinta Abang adalah segala-galanya pada Si Gadis.
Masing-masing cerita dari sebelas cerita pendek di dalamnya seperti menawarkan sebuah formula cerita dengan kutipan kata “cinta” di dalamnya: cinta sahabat sendiri. Cita tidak sampai. Hantu bercinta. Autis pun tahu artinya bercinta. Cinta ibu. Cinta, cinta dan cinta. Kontestasi cinta mana yang paling besar, ragam cinta dan lain-lain.




RIWAYAT PENULIS
Prasma Wulandari. NF dilahirkan di Jambi, pada tanggal 5 Maret 1990. Ia anak pertama dari dua bersaudara. Pendidikan awal yang ia duduki adalah taman kanak-kanak selama 1 tahun. Kemudian ia sekolah dasar di SDN 74/III Gunung Kerinci dan lulus pada tahun 2002. Kemudian ia melanjutkan kesekolah menengah pertama di SMPN 2 Gunung Kerinci dan lulus pada tahun 2005. Ia pun melanjutkan Sekolah Menengah Atas di SMAN 1 Gunung Kerinci pada tahun 2006 dan pada tahun 2007 ia pindah sekolah ke SMAN 1 Solok Selatan dan lulus pada tahun 2008 ia pun langsung masuk keperguruan tinggi dan sampai sekarang masih aktif sebagai mahasiswi Universitas Negeri Padang.

Essay 32 (Kritik Sastra)



PERJUANGAN DAN CINTA DALAM MARYAMAH KARPOV
Oleh Risella

MARYAMAH Karpov adalah novel ke empat dari Laskar Pelangi. Novel Andrea Hirata ini menceritakan tentang perjuangan Ikal yang rela mati-matian melakukan apapun agar dia bisa bertemu dengan A Ling orang yang sejak kecil disukainya. Iya rela mempertaruhkan jiwa dan raganya agar bisa menemui A Ling ke Batuan, walaupun dia belum tahu pasti apakah A Ling ada disana atau tidak. Apakah A Ling masih hidup atau tidak. Namun tekad dan niatnya sudah bulat apapun yang akan terjadi ia akan terus mencari A Ling. Akhirnya dia membuat perahu selama 6 bulan dengan kerja kerasnya sendiri.
“Intinya, aku melakukan, apa pun, apa saja, agar dapat membeli perahu, agar dapat berlayar ke Batuan, untuk menjemput A Ling.”
Novel Maryamah Karpov ini banyak menceritakan gaya hidup orang melayu yang suka bertaruh dan suka menjuluki orang-orang. Apa pun hal yang mereka anggap aneh akan menjadikan itu sebuah taruhan. 
“Dalam kelompok julukan berdasarkan profesinya ini, kawan, tentu telah pula berkenalan dengan Mandor Djuasin, Marsanip sopir Ambulans, dan Mahadip Sheriff. Pak tua Manyur Ismail yang bertindak selaku modin, penghulu, dan penasihat perkawinan mendapat nama unik Modin Mahligai. Makhruf, Bc. I. P., tamatan sekolah permasyarakatan di Bandung itu belakangan dijuluki orang Makhruf Bui, Bc. I. P.” 
Dengan kerja keras dan usaha yang dilakukan Ikal untuk membuat kapal, akhirnya selesai juga dengan bantuan para sahabatnya dan kapal tersebut di beri nama Mimpi-Mimpi Lintang karena dengan dalil-dalil Lintanglah Ikal bisa membuat kapal tersebut. Novel ini juga sangat menarik karena memotivasi kita kalau hidup dengan mimpi itu indah apabila kita berusaha untuk mewujudkannya.
Banyak keunikan yang terdapat dalam novel ini dari mulai ceritanya sampai pada gaya bahasa yang banyak terdapat dalam novel ini. Bahasa dalam novel ini sangat puitis bahkan memberitahukan keburukan sesesorangpun terkesan sangat indah. Apabila kita membaca novel ini, pembaca akan terharu dengan perjuangan Ikal demi mendapatkan cintanya kembali. Juga tentang sebuah persahabatan yang begitu mengharukan, yang saling memotivasi dan saling mendukukng padahal mereka hanya teman pada sekolah Laskar Pelangi dahulu. Disamping keunikan dan kebaikan buku ini, kadang pembaca juga sedikit tidak percaya karena kadang ceritanya terlalu berlebih-lebihan. Mana mungkin seseorang bisa menarik sebuah kapal yang sudah terbenam ratusan tahun di dasar laut hanya karena dalil Lintang.
“Aku menemukan makhluk Pleistosen, raksasa penguasa dasar sungai seperti kata Mahar. Ratusan tahun makhluk ini terbenam didasar sungai. Dulu dia sangat garang. Panjangnya tidak kurang dari lima belas meter. Beratnya mungkin sepeuluh ton. Kini ia menjadi jenazah yang malang. Ia terbaring seperti bersemedi. Kakinya patah, lehernya terkulai, tapi bahunya masih tegap.”
Penokohan dalam novel Maryamah Karpov ini sangat unik sesuai dengan peran masing-masing tokoh. Seperti Ikal, tokoh utama dalam novel ini yang begitu optimis dan percaya bahwa mimpinya akan terwujud untuk berjumpa dengan A Ling. Selain keberaniannya yang begitu kuat dia juga mempunyai ketakukan yaitu trauma pada Bidan dan semua hal yang berbaur rumah sakit. Karena waktu dia sunat dulu mengalami cedera akibat ada yang tidak beres dengan pembiusan. Tiba-tiba saja obat biusnya habis.
“Aku mengaduh-aduh kesakitan, kulihat diluar, diperlukan tiga Satpam untuk memiting Ayah agar beliau tak turut campur urusan gawat ini. Para perawat tadi menenangkanku dan bertengkar apakah sebaiknya aku disuntik lagi. Sebagian melarang. Sementara iu sakit yang kurasakan luar biasa, menjalar dari selangkangku, menolok ulu hati, lalu mengikat perih sampai ke ubun-ubun. Aku bangkit, dan kulihat pemandangan mengerikan, darah berserakan diantara kedua kakiku. Aku terhempas lagi, semaput karena ketakutan.”
Mahar, orang yang blak-blakan dan bicara sesuka hatinya sehingga setiap perkataannya orang sulit percaya karna dari sikapnya yang tidak meyakinkan. Edan dan semakin sesat, demi ilmu-ilmu ghaib yang sedang dianutnya. Dia mengikuti jejak Tuk Bayan Tula orang yang sangat dijunjung dan dipujanya. Oleh sebab itu masyarakat banyak memandang miring tentangnya. Namun dibalik itu semua Mahar memang mempunyai kekuatan yang tidak bisa diremehkan. Buktinya saat mereka berlayar dan singgah disebuah pulau, disana tinggal seorang bapak bersama anak perempuannya yang menanggung sakit bertahun-tahun akibat perbuatan Tambok karena Nai menolak pinangannya. Akhirnya Mahar bisa menyembuhkan penyakitnya.
“Aku terpana memandang Mahar seperti aku tidak pernah mengenalnya. Sungguh tidak dapat lagi Mahar dianggap sebelah mata. Begitu jauh ia telah terlibat dalam ilmu hitam, sehingga ia bisa, untuk kali pertamanya dalam hidupku, membuatku mampu melihat hantu.”
Lintang, laki-laki yangsangat cerdas yang mampu memecahkan masalah hanya dengan rumus fisikanya. Bahkan ia mampu membangkitkan kapal yang telah terbenam didasar laut selama ratusan tahun. Maka wajarlah Ikal memanggilnya dengan Isaac Newton.
“Tapi aku tidak perlu cemas sebab Lintang, Isaac Newton-ku itu, sore ini akan merapat lagi ke dermaga.”
Namun nasibnya yang malang dari kecil dia terpaksa berhenti sekolah karena harus menghidupi adiknya setelah ditinggal mati oleh ayahnya saat melaut. Dia tidak bisa seperti teman-temannya yang kuliah diluar negeri. Namun walaupun begitu kecerdasan dan kejeniusannya tetap seperti dulu. Dia juga berperan banyak dalam pembuatan kapal Ikal, sehingga Ikal memberi nama kapalnya dengan Mimpi-Mimpi Lintang.
“Aku mengambil kuas untuk menorehkan sentuhan terakhir pada perahuku, inilah saat sakral yang dinantikan semua pembuat perahu, saat yang  kutunggu-tunggu sejak tujuh bulan silam, saat kulukis nama perahuku: Mimpi-Mimpi Lintang.”
Arai, adalah sepupu Ikal yang yatim piatu, waktu masih anak-anak ayah Ikal mengangkatnya sebagai anak. Sejak saat itulah Ikal dan Arai selalu bersama hingga mereka kuliah di Jakarta dan dapat beasiswa ke paris. Sejak kecil dia sudah menyukai Zakiah Nurmala. Hingga dia tidak mampu sedikitpun berpaling dari perempuan itu. Dia tidak putus asa, dan akhirnya dengan bergagai cara dia bisa menikah dengan Zakiah dan membawa istrinya tersebut ke Paris, karena mendapat tawaran di Universitas Essex.
Banyak lagi tokoh-tokoh lainya yang tidak bisa disebutka satu persatu. Seperti: Arai, A Ling, A kiong, Syahdan, Sahara, Kucai, Flo, Harun, Tuk Bayan Tula, Tambok, Chung Fa, orang-orang melayu dan banyak lagi lainnya.
Novel ini mengandung amanat yang sangat mulia, agar seseorang selalu optimis dan bekerja keras untuk mencapai cita-cita serta tidak mudah putus asa. Juga tentang perjuangan seseorang untuk mendapatkan orang yang dicintai dengan berbagai cara walau maut tantangannya. Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama.




RIWAYAT PENULIS
Risella yang biasa disapa dengan Sella, lahir di Ujung Gading Pasaman Barat, 23 April 1990. Dia tumbuh dewasa dalam keluarga yang sederhana. Dia sekolah di SMAN 1 Lubuk Melintang dan melanjutkan perguruan tinggi di Universitas Negeri Padang, jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Sejak kecil dia suka sekali membaca hingga beranjak dewasa, orang-orang menyebutnya kesukaannya itu dengan nama hobi.
Cewek yang mempunyai kemauan yang keras dan menerima segala kritik dan saran dari orang-orang terdekatnya. Karna orang yang cerdas bukan orang yang tak pernah tersesat, tetapi orang yang tahu bagaimana untuk keluar setelah terperangkap di ruangan sunyi dan gelap.

Essay 31 (Kritik Sastra)



UKIRAN MENGESANKAN PADA PERAHU KERTAS
Oleh Mella Sari

KARYA fiksi di Indonesia memiliki banyak ciri khas yang menarik bagi para pembaca. Keunikan-keunikan tokoh, latar-latar yang indah, pilihan diksi yang bervariasi serta alur yang mengesankan membuat para pembaca selalu memiliki hasrat untuk membaca karya sastra Indonesia. Artinya, pada karya sastra ini memiliki sebuah kharisma yang dapat menarik orang-orang yang cinta baca untuk selalu membaca karya-karya baru yang terlahir dari para penulis.
Karya fiksi selalu meningkat dari masa ke masa. Karya modern yang dilahirkan Dewi Lestari ini mengundang banyak perhatian bagi pencinta karya sastra. Novel yang berjudul ‘Perahu Kertas’ ini mengupas hal-hal yang dipenuhi dengan gelak tawa, kekonyolan, keegoan, persahabatan dan tangis sehingga cerita ini  sungguh begitu manusiawi. Para pembaca pasti tersentuh oleh alur ceritanya.
Perahu kertas menceritakan tentang kisah seorang anak gadis mungil yang senang sekali mengirimkan pesan kepada Neptunus melalui sebuah perahu kecil terbuat dari kertas yang berisikan pesan-pesan lalu dihanyutkan di sungai atau laut. Kugy namanya, dia menganggap dirinya seorang agen Neptunus.  Novel ini juga menceritakan kehidupan Kugy, kisah cintanya, perkuliahannya, persahabatannya dan kisah-kisah remaja lainnya juga tergambar di novel ini seperti pesta remaja dan perayaan tahun baru.
Tokoh Kugy pada karya Dewi Lestari ini membuat pembaca larut dalam gambaran seorang Kugy. Sedikit banyak pembaca memiliki hasrat untuk menjadi seorang Kugy yang mungil, cantik, bersemangat, suka berkhayal dan cuek untuk masalah penampilan tanpa peduli apa kata orang. Hobi tokoh Kugy sangat tepat dipilih oleh Dewi Lestari karena sangat langka di Indonesia yang  jumlah penduduknya hampir setengah miliyar orang ini. Selintas Dee menggambarkan kecintaan Kugy terhadap hobi yang dimilikinya dalam sebuah paragraf sebagai contoh untuk para pembaca khususnya remaja Indonesia sekarang ini.
“Tidak semua orang menganggap menjadi penulis dongeng layak disebut sebagai cita-cita. Kugy juga tahu itu. Semakin ia beranjak besar, kugy sadar bahwa sebuah cita-cita yang dianggap layak sama dengan profrsi yang pasti menghasilkan uang. Penulis dongeng bukan salah satunya. Untuk itu, sepanjang hidupnya Kugy berupaya membuktikan bahwa ia bisa mandiri dari buku dan menulis”.
Tokoh Keenan pada ‘Perahu Kertas’ ini juga memiliki hobi yang menarik yaitu melukis. Keenan tetap mempertahankan hobi melukis walau ditentang oleh orang tuanya, karena dengan hobi ini Keenan merasa hidupnya lebih berwarna. Hal ini juga digambarkan Dee pada cerita ‘Perahu Kertas’.
“Kamu ... sebetulnya ... terpaksa kuliah di sini, ya?” ucap Kugy hati-hati. Tidak yakin apakah prtanyaan itu pantas diajukan, tapi mulutnya seperti tidak bisa ditahan.
“Keenan menatap Kugy balik, terbesit senyum getir di wajahnya. “nggak matching,” ujarnya pendek, “antara minat, cita-cita dan keinginan orang tua. Harus membuktikan bahwa saya bisa mandiri lewat melukis, sementara kesempatannya tidak pernah dikasih”.
 Keunikan nama tokoh utama yang digunakan oleh Dee seperti Kugy dan Keenan. Awal membaca novel ini sulit untuk diketahui mana yang perempuan dan mana yang laki-laki tetapi setelah dibaca dengan baik barulah mengerti dan sangat berbeda. Kugy sangat akrab dipanggil dengan ‘kecil’. Nama-nama lain yang dimunculkan seperti Eko, Noni, Wanda, Ojos, Pak Wayan, Adri, Lena, Remi, Luhde, Bimo dan beberapa lainnya juga menarik dan mempunyai ciri tersendiri, tetapi penulis tidak terlalu menonjolkan kisah mereka, karena Dee lebih menguatkan pada kisah Kugy dan Keenan.
Novel perahu kertas ini bergenre populer, gaya tutur yang khas seperti anak muda perkotaan. Selintas kata-kata yang digunakan tidak terlalu rumit dipahami oleh pembaca. Berbeda dengan novel postmodern yang bahasanya sedikit melampaui batas dan harus dipahami secara menyeluruh. Hal ini terlihat pada dialog-dialog yang diutarakan para tokoh di dalam perahu kertas. Walau lebih kepada khas anak muda perkotaan tetap saja novel ini tidak lepas dari dksi-diksi yang bervariasi dan gaya bahasa yang indah.
“Ayahnya menghela napas. Riak pada air mukanya tidak bisa disembunyikan, dan keenan melihatnya dengan jelas”.
“Ada suasana mendung yang seketika menggantung di ruangan itu. Satu demi satu pun melanjutkan kegiatannya masing-masing tanpa suara”. 
Permasalahan yang menarik pada perahu kertas ini ialah kisah perjalanan cinta antara Kugy dan Keenan. Kisah cinta yang luar biasa. Pertama kali membacanya sudah dapat terduga ceritanya akan biasa saja seperti novel pop yang selama ini sering dibaca. Tetapi semakin dibaca maka akan tahu ‘keistimewaan’ dari novel Dee ini. Kugy dan Keenan merupakan teman satu kampus di Bandung. Bagai langit dan sumur. Begitu kata Dee untuk menggambarkan keduanya. Mereka saling mengangumi satu sama lain. Namun, keduanya sama-sama tidak mampu untuk mengungkapkannya. Dan, keadaanpun rupanya tidak memungkinkan. Sampai akhirnya cinta mereka menyatu setelah masing-masing mempunyai pasangan hidup. Sedikit cuplikan perasaan Kugy terhadap apa yang dipendamnya terhadap Keenan.
“Bukan hanya karena pembicaraan di Pemadam Kelaparan tadi siang, sudah beberapa minggu belakangan ini Kugy merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Meski rasanya sudah di ujung lidah, Kugy belum bisa menguraikan apa yang sesengguhnya terjadi. Tidak juga pada dirinya semdiri”.
Alur pada Perahu Kertas ini sangat menyentuh hati pembaca. Hal ini karena warna-warna yang bervariasi digoreskan oleh Dee dalam setiap jalan cerita. Alur yang terdapat dalam Perahu Kertas  ini merupakan alur maju, karena rentetan cerita yang selalu berjalan dengan sistematis dari awal sampai akhir. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.
“(Awal cerita) Amsterdam, Juni 1999... Tidak ada alasan untuk meninggalkan Amsterdam pada musim panas. Inilah masa terbaik untuk bersepeda di sekitar Leidseplein dan Dam Square sambil menikmati sinar matahari yang merupakan surga tahunan bagi warga kota”.
“(Akhir cerita) Jawa Barat, Juli 2003... Hari sudah sore saat ia tiba ke tempat ini. Kembali untuk yang ketiga kalinya. Tak ada lagi tempat yang lebih tepat untuk ia kunjungi. Keenan langsung memarkirkan mobilnya di tebing, bersiap menyambut gua kelelawar di bawah sana memuntahkan isi perutnya sejenak lagi”.
Dari kutipan di atas dapat dapat dilihat bahwa penulis memulai cerita pada tahun 1990 dan mengakhiri cerita pada tahun 2003. Hal ini membuktikan bahwa alur dalam karya Dee ini merupakan alur maju, berbeda dengan alur yang terdapat dalam karya Nukilla Amal yaitu Cala Ibi.
Perahu kertas juga menampilkan tempat-tempat yang pas untuk mempengaruhi pembaca agar lebih terjun ke dalam cerita. Misalnya mengenalkan pembaca kepada tempat-tempat yang indah di pulau Bali dan Jawa. Menggambarkan bagaimana keadaan di kota Jakarta, Bandung, Kuta, dan Ubud. Ini membuktikan bahwa penulis mempunyai pengetahuan yang baik terhadap tempat-tempat yang layak ditampilkan dalam karyanya.
“Keenan memutuskan untuk keluar dari “gua beruang”-nya, turun gunung dari Ubud. Malam ini ia ikut dengan Bayu dan Agung ke Kuta untuk bertahun baru. Jalan Legian penuh sesak dengan orang-orang, mobil-mobil bahkan nyaris tak bergerak. Hampir setiap kafe dipadati pengunjung yang sampai tumpah ruah ke trotoar jalan. Mereka bertiga bahkan harus bicara dengan berteriak-teriak. 
Sepenggal bagian cerita di atas menggambarkan tempat yang biasa disenangi oleh orang-orang dalam realitanya. Ubud yang selalu dipenuhi orang-orang pada saat tahun baru. Penulis sangat tepat menggambarkan seolah pernah pembaca mengalami kejadian tersebut dan membawa pembaca terhanyut ke dalamnya.




RIWAYAT PENULIS
Mella Sari terlahir sebagai anak ke- 3 dari Kasmaboti.  Sebuah desa di pinggiran kota Padang merupakan saksi bisu kelahiran gadis ini.  Dua puluh satu tahun yang silam gadis ini terlahir ke dunia fana, 22 Januari 1990. Gadis munggil nan periang menjalani hidup dengan motto “Bermental Besi Bertekat Baja”.
Lesuik, Begitulah teman-teman memanggilnya. Semasa Diniyah Puteri ia pernah menulis cerpen dan terpilih sebagai juara harapan 1 tingkat Kodya Padang Panjang. Bakat itu ia lanjutkan dengan kuliah di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang. Sekarang ia aktif sebagai pengurus himpunan mahasiswa jurusan bahasa sastra dan seni.
Gadis yang menyukai warna kuning dan jeroan ini merupakan jebolan MAN 2 Padang. Semasa di MAN ia tetap menulis walaupun hanya untuk disimpan dalam buku hariannya. Hidup selalu dijalaninya dengan ceria dan penuh semangat. Ia selalu hidup dengan motto hidupnya. Jalin kerjasama dengan penulis HP 085274616919 atau email: Iya.spongebob@yahooo.co.id.

Essay 30 (Kritik Sastra)



KEHANCURAN YANG TERUS DATANG KEPADA MANUSIA
Oleh Darma Yulia. A

MANUSIA cenderung untuk melakukan hal-hal baru. Namun sesuatu yang lama tidak begitu ditinggalkan, bahwa setiap zaman, selalu terdapat tarik-ulur diantara gaya hidup konvensional dengan gaya hidup modern. Gaya hidup pada tataran ini menyangkut segala bentuk tata cara dan prilaku manusia pada umumnya. Satu diantara tata cara itu ialah pada laku sprilitualitas, yakni bentuk-bentuk ketaatan keagamaan.
Tokoh utama dalam novel ini yaitu Yuda, seorang pemanjat tebing dan seorang petaruh sejati. Ada tiga tokoh disini; Marja, kekasih Yuda seorang mahasiswi desain dan Parang Jati seorang mahasiswa Geologi ITB semester akhir, penduduk lereng Watugunung yang berjari tangan 12. Yuda bertemu dengan Parang Jati ketika hendak membeli peralatan memanjat di rumah sahabatnya yang telah ‘pensiun’ sebagai pemanjat karena menikah dan membuka usaha menjual alat-alat untuk panjat tebing
Resitensi selalu muncul dalam kehidupan manusia. Itu menjadi hal yang wajar mengingat manusia mencari hal-hal baru. Namun ditengah pencarian itu, keinginan untuk meninggalkan yang telah ada, juga tidak sepenuhnya dilakukan. Artinya tidak selalu ada tarik ulur dalam memperhatikan nilai-nilai budaya lama dengan keinginan untuk menerapkan nilai-nilai budaya baru. Itulah yang kemudian menimbulkan resitensi yang kemudian menimbulkan resitensi yakni sebuah perlawanan. Bentuk perlawanan dari kehidupan manusia.
Resitensi yang terjadi dalam novel bilangan Fu sering dikaitkan dengan hubungan sosial, baik itu menyangkut hubungan antar personal, personal dengan lembaga, maupun antar lembaga. Novel Bilangan Fu merupakan karangan yang sangat erat dengan muatan interaksi sosial. Satu diantaranya ialah tentang interaksi antara tokoh Kupu-kupu dengan Tetua desa. Yang terjadi diantara keduanya resitensi, yakni penolakan satu sama lain tentang laku spiritual.
Dalam novel ini digambarkan pada sebuah kehidupan beberapa pemuda pemanjat tebing yang tidak menyukai kehidupan kota karena terlalu memuja televisi. Mereka hanya memikirkan diri sendiri dengan melakukan pemanjatan kotor dengan melukai tebing dan merusak alam disekitarnya. Setelah bertemu Parang Jati, Yuda dan timnya melakukan pemanjatan bersih yaitu tanpa melukai tebing. Yuda seorang pemanjat tebing dan petaruh yang tidak percaya pada hal-hal yang mistik dan melecehkan nilai-nilai masyarakat. Dia memenangkan setiap taruhan dengan teman-temannya sebelum bertemu Parang Jati. Sehingga dia punya barang aneh hasil taruhannya seperti kelingking si Fulan, tulang rusuk dan barang aneh lainnya yang ia dapatkan.
Parang Jati adalah seorang pemuda berjari dua belas yang sering dipandang tidak lumrah, yang dididik oleh ayah angkatnya dan sangat menghormati keberagamaan. Dalam novel ini Parang Jati banyak mengutip kata-kata Yesus dalam konteks kotbah di bukit. Dia mengerti benar bahwa agama-agama lokal justru memiliki nilai-nilai yang memelihara alam ketimbang klaim kaum monoteis yang dogmatik dan cenderung diabaikan  pada lingkungan hidup disekitar.
Dalam novel ini ada  Marja kekasih Yuda yang bisa disetubuhi dengan sukarela tanpa paksaan. Bertapa kejam dan hinanya perlakuan itu. Marja seorang gadis bertubuh Kuda Teji yang juga mempunyai kelebihan dan kekuatan yang tidak dimiliki kaum pria. Karena itu ia bisa melakukan hal yang ia inginkan dengan sepenuh hatinya. Mereka terlibat dalam segitiga cinta yang lembut, diantara pengalaman-pengalaman keras yang berawal dari sebuah kejadian aneh orang mati yang bangkit dari kubur menuju penyelamatan perbukitan gamping di Selatan Jawa.
Dalam Bilangan Fu ini muncul pertikaian-pertikaian antara salah satunya adalah dari sikap pelaksanaan spritualitas. Bentuk spritualitas tersebut berupa nilai spritualitas agama Islam. Itu dapat kita lihat dari tuturan dan konteks yang terjadi antara tokoh Kupukupu dan ketua adat. Dalam tuturan tersebut, ungkapan ‘Gusti Allah’, ‘musyrik’ dan ‘muslim’ misalnya, menjadi data bahwa konteks spritualitas yang dimaksud ialah agama Islam.
Kupukupu yang beragama islam sangat marah pada pamannya (lelaki yang mati digigit anjing). Sejak lama Kupu-kupu memperingati dan menasehati lelaki itu tetapi lelaki itu tetap saja pada keyakinannya. Dia lelaki yang memberikan sesajian pada sebuah pohon di kaki Watugunung. Telah bertahun-tahun ia musyrik demi untuk memperoleh ilmu hitam. Bertapa mereka tidak berpikir dan bertindak sesuai dengan keinginannya. Kupu-kupu dengan tetua desa mengatakan bahwa kematiannya digigit Anjing itu adalah suatu gambaran kemarahan Allah padanya. Itu saja sudah mengambarkan bahwah ia telah musyrik. Karena  ia telah mempersekutukan Allah selama hidupnya. Untuk itu ia tidak pantas dimakamkan dengan cara Islam. Ia tidak boleh disembayangkan dan tidak boleh dimakamkan di pemakaman umum. Karena nantinya tidak akan diterima oleh Allah. Kupu-kupu dengan seksama mengumumkan keburukan pamannya itu  didepan penduduk desa dan masyarakat sekitarnya sama sekali tidak mengkwatirkan jenazah itu. Karena kekerasan hatinya. Kupu-kupu pun berhasil memaksakan kehendaknya. Kepala desa dan keluarga lelaki yang mati karena digigit Anjing itu mengalah tidak ada lagi perlawanan. Jenazah itu akhirnya dimakamkan di lereng Watugunung. Dan Kupu-kupu itu terlalu yakin dengan kebenarannya dan menurut dia tidak ada toleransi untuk orang yang musyrik kepada Tuhannya.
Mungkin seharusnya Kupu-kupu tidak perlu terlalu bersikeras langsung mengkafirkan orang walaupun orang tersebut mencari ilmu hitam dan mempersekutukan Allah. Karena itu adalah hak dan prifasi mereka. Belum tentu juga Kupu-kupu benar sepenuhnya karena dalam Islam masih ada toleransi, serta menganjurkan berbuat baik pada sesama manusia. Dan biarkan saja Allah yang menghukum orang-orang yang musyrik. Dalam mengungkapkan Spiritualisme kritis yang menjadi tema besar novel ini, banyak sekali menghadirkan debat-debat antara tokoh Yuda dan Parang Jati, serta dengan penduduk setempat disekitarnya. Pengarang juga banyak sekali menyinggung tentang  sejarah Babad Tanah Jawi dalam menyampaikan pendapatnya tentang berbagai adat istiadat yang berhubungan dengan spiritual Jawa seperti kepercayaan tentang Nyai Roro Kidul, persembahan atau sesajen, upacara Bekakak di Yogyakarta.
Adanya nilai-nilai agama Islam yang dikemukakan, haruslah sesuai dengan kaidah dan manfaatnya dalam kaidah islam yang telah ditentukan. Pada konteks tersebut, nilai spritualitas yang terjadi, dalam konteks Islam, ialah tentang tasawuf dan syariat. Sebagai bentuk spritualitas Islam, tasawuf pada mulanya muncul sebagai gerakan Zuhud, yaitu sikap mengingkari gejala kemewahan dan materialisme yang berlebihan dengan memperbayak ibadah.
Tasawuf diwakilkan pada tokoh ketua adat yang lebih mementingkan sikap untuk berbuat baik kepada manusia. Dan dalam hal ini, nilai humanisme menjadi faktor kunci. Dan itu tidak terlepas dari konsep ajaran tasawuf yang lebih mengedepankan pada masalah moral. Di satu sisi, Kupu-kupu mewakili tokoh yang menekankan pada syariat Islam. Hal yang menonjol tentang ini ialah dikutipnya ayat yang mengatakan tentang tidak bolehnya menyolatkan jenasah orang musyrik, “Janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan jenazah orang musyrik...”. Pada posisi inilah pemantapan pada bidang syariat menjadi hal yang menonjol.
Permasalahan dalam novel ini adalah pertikaian yang terjadi pada akhirnya menimbulkan pertentangan fisik antara masyarakat. Itulah  disebabkan tidak adanya sikap untuk saling bertoleransi antara manusia dan manusian lainnya. Yang ada hanyalah sikap untuk memaksakan diri terhadap idiologi dan keyakinannya sendiri dan tidak mementingkan orang lain hanya diri sendiri yang diutamakan. Inilah yang kemudian menjadi sesuatu yang dapat menyebabkan pertentangan antara masyarakat desa. Pada hubungan Kupu-kupu dan ketua adat (masyarakat), tindakan yang terjadi hingga berupa tindakan fisik, yang dilakukan yakni dengan cara mengobrak-abrik acara ritual adat masyarat tersebut dan menjadi sesuatu yang tidak terpuji pada orang yang melihatnya.
Melalui tokoh Kupu-kupu, Islam dimunculkan sebagai bentuk kekerasan. Padahal agama Islam adalah agama yang paling dimuliakan oleh Allah. Inilah yang kemudian melahirkan diskonsepsi tentang Islam. Kekerasan yang dimunculkan ialah dengan cara menendang nyiru dan menyebabkan kepala korban terlontar dan jatuh terburai hingga terdengar orang-orang menjerit. Sehingga terjadilah kehancuran kepada manusia. Maka, ketika hal itu terjadi, banyak masyrakat yang tidak percaya dan merasa sayang atas perbuatan seperti itu. Itulah yang merupakan bentuk diskonsepsi Islam pada akhirnya. Sebab, yang melakukan itu ialah orang-orang yang mengerti tentang syariat Islam. Dan muncullah kehancuran kepada manusia, yang terus menerus datang silih berganti.
Akibat sikap Kupu-kupu yang dinilai tidak sesuai dengan struktur adat masyarat, dan pada akhirnya mendapat perlawanan dari masyarakat itu sendiri. Disinilah konflik sosial terjadi dan kehancuran. Begitu juga dengan konflik yang terjadi tidak sekadar pada tataran ideologis, namun telah merambah ke masalah fisik. Itu terlihat dari sikap beberapa laki-laki dengan sikap menantang Kupukupu dalam novel tersebut. Sikap itu ditunjukkan oleh mereka sebab mereka merasa dihina oleh Kupu-kupu. Karena itu merupakan bagian dari adanya perbedaan sosial. Dan dalam hal ini, perbedaan yang terjadi berada pada wilayah spiritual agama. Makna spiritual agama pada novel di sini ialah pemaknaan tentang tafsir  kultur sosial, agama, yaitu agama Islam dan kehancuran yang terus datang silih bergati kepada manusia.
Timbulnya bentuk perlawanan dari para pemuda yang menentang Kupu-kupu, tidak adalah merupakan sikap mereka dalam melihat permasalahan yang berbeda. Perbedaan itu tidak lain adalah diimbangi dengan sikap menghadirkan nilai-nilai toleransi hal. Hal itu  mengakibatkan, pertentangan yang semangkin muncul bukan pada tataran ideologis semata, namun berbeda pada tataran fisik dan kehidupan masyarakat. Ini sangat disayangkan karena mengingat perlawanan yang terjadi berpijak pada nilai-nilai agama, yakni Islam. Seharusnya kupukupu yang mengerti serta menganut islam harus lebih mengerti dengan toleransi beragama. Kalau tidak kehancuran akan terus datang kepada manusia dan sekitarnya. Walaupun sakit hati dengan pamannya (lelaki yang mati digigit anjing), yang jelas ia tetap akan jadi pamannya sampai kapan pun, tetap saja dia tidak boleh memakai kekerasan apalagi dalam hal keagamaan dan membuat manusia tambah hancur lagi.
Dalam novel ini pengarang sangat pandai memainkan kata-katanya dengan sangat sempurna dan mendalam. Seakan kita dapat merasakannya juga. Novel ini juga menyinggung unsur-unsur pornografi yang menjadi hiburan serta menyinggung sejarah Babad Tanah Jawi sehingga pembaca tidak bosan membacanya. Novel ini juga memainkan kata-kata yang begitu menyentuh, dan juga bisa menambah wawasan pembaca bila membacanya dan seakan bisa merasakannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain terhibur yang membaca novel ini, juga dapat mengetahui bagaimana agama yang diridhoi oleh Allah dan apa yang harus dihindarkan. Pembaca juga bisa memperluas pengetahuannya serta mengerti dengan kehidupan yang terdahulu atau yang lampau. Dengan memahami bagaimana Islam yang sempurna itu tanpa ada syirik, dan musrik dalam diri manusia itu sendiri.
Keterkaitan unik baik dalam konteks substansi karya maupun perjalanan, atau bahkan persaingan antara manusia dan kehanjuran pada dirinya sendiri. Terlepas dari nuansa persaingan, keduanya memiliki kesamaan isu dalam kegelisahan spiritual yang melahirkan suatu perspektif tertentu dalam memahami agama dan Tuhan, khususnya dalam konteks Indonesia. Momentum kemunculan dua karya tersebut terkait dengan kondisi masyarakat yang masih penuh kontroversi seputar isme-isme dalam konteks keberagaman dan keberagamaan.



RIWAYAT PENULIS
Darma Yulia. A yang sering dipanggil Yulia ini sekarang sedang kuliah disebuah Perguruan Tinggi Negeri. Darma Yulia. A Lahir di Bukitinggi, 7 Agustus 1989 dan sekarang dalam bangku  kuliah semester lima, jurusan yang diambil Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah. 
Darma Yulia. A hobi membaca, baca puisi, dan berenang. Darma Yulia. A  setelah lulus di Sekolah Menengah Atas/SMK tahun 2008. Langsung mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri dan Alhamdulillah lulus dengan  program studi “Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia” di Universitas Negeri Padang yang sekarang ia jalani.  
Ini adalah pengalaman pertama Yulia dalam menulis essai sastra sejak masuk perguruan tinggi. Darma Yulia. A mulai mengenal sastra sejak masuk di perguruan tinggi ini. Dan setelah banyak membaca buku sastra sekarang tertarik untuk mencoba membuat sebuah esai sastra. Ini adalah kali pertama Yulia membuat esai sastra.

Essay 29 (Kritik Sastra)




MATERIALITAS DALAM DAUN-DAUN BERDZIKIR
Oleh Suci Amanda Septia

NOVEL Islami tentang persoalan kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin, yang bisa diatasi dengan cara menebar cinta itulah salah satu karya yang diciptakan oleh Taufiqurrahman Al-Azizy. Beliau pernah membaca sabda Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa jihad yang terbesar dalam hidup adalah jihad melawan hawa nafsu. Hawa  nafsu yang selalu menyuruh pada keburukan, yang selalu memerintah pada kejahatan, yang selalu memaksa hati pada kemungkaran. Seperti hasrat pada umumnya, hawa nafsu selalu menghendaki agar dia dipenuhi. Semakin dipenuhi, semakin merasa harus dipenuhi lagi. Dan begitulah seterusnya.
Nafsu sulit sekali dipisahkan dengan cinta, sehingga sebagian orang menganggap bahwa keduanya-nafsu dan cinta-sangat sulit dipisahkan. Di dalam nafsu, kata mereka ada cinta. Dan didalam cinta, terdapat nafsu. Apakah masalah seperti ini tidak bisa diselesaikan, sementara kita sebagai muslim selalu saja diajarkan oleh kebenaran yang mengatakan bahwa cinta itu suci karena berasal dari Dzat Yang Maha Suci?.
Karena pertanyaan itulah, kisah ini diangkat oleh beliau. Diawali dari perjalanan singkatnya ketika pulang ke Pedalaman Boyolali, menginjakkan kaki di desa sebelah, dan menikmati alamnya yang belum banyak berubah. Dukuh Gagatan, nama Dukuh tersebut, yang digunakan menjadi tempat kisah ini muncul. Gagatan menimbulkan kenangan tersenderi dibenaknya, khususnya tentang kesederhanaan warganya dan tentang anak-anak mudanya.
Ditengah ketenangan dan kedamaian kehidupan warga Dukuh Gagatan, tiba-tiba muncul ide dalam dirinya untuk menulis kisah yang mengerikan. Tentang cinta dan persahabatan. Tentang kesederhaan dan kemewahan. Tentang ketulusan dan kepura-puraan. Tentang harga diri dan kehormatan. Cinta dan persahabatan yang dimunculkan dalam kisah ini adalah terhadap persoalan cinta dan persahabatan yang akhir-akhir ini semakin bercampur dengan hawa nafsu. Masalah perbedaan status sosial, kaya dan miskin, tampan dan tidak tampan, semuanya menjadi alasan untuk menimbang cinta dan persahabatan.
Sering sekali kita mendengar bagaimana ada laki-laki yang bunuh diri karena patah hati? Ada pula perempuan yang melakukan hal yang sama karena patah hati? Apakah itu cara terakhir dan terbaik demi bisa mengatasi hati yang patah karena cinta? Memilih cinta atau persahabatan? Memilih orang yang kaya untuk menjadi idaman masa depan, atau orang yang baik dihadapan Tuhan? Serta ada pula pemuda-pemudi yang menggunakan cara jahat agar cintanya bersambut, seperti mereka mendatangi dukun atau paranormal untuk meminta bantuan demi bisa meraih cinta dan hasratnya.  Pertanyaannya, apakah seperti ini muda-mudi islam?
Dengan maksud menundukkan perkara pada tempatnya, bersikap adil menurut keadilan Ilahi (Islam), dan mengajak sahabat-sahabat muda untuk mengatasi persoalan cinta dan persahabatan yang akhirnya harus berakhir pelik, maka Taufiqurrahman Al-Azizy menulis kisah ini. Sebuah kisah tentang lima orang muda-mudi kota yang tengah mengadakan penelitian di Dukuh Gugatan, yang membawa mereka pada petualangan pikiran, hati, dan perasaan, tentang makna cinta yang sejati.
Menurut saya, ini adalah sebuah novel religius sangat inspiratif yang akan menuntun kita menemukan cinta berlandaskan kecintaan kepada Sang Maha Cinta. Karena hanya berbekal cinta kepada-Nya, hidup anda akan bahagia. Sekalipun cobaan terus menghantam, anda akan tetap teguh tegar, menatap dunia dengan optimis. Inilah kesaksian daun-daun pun berdzikir karya novelis muslim kawakan, Taufiqurrahman al-Azizy. Novel ini menceritakan seseorang yang telah bersahabat sangat lama, tapi hubungan persahabatan mereka terputus karena masyarakat sekitar beranggapan bahwa mereka mempunyai rasa cinta satu sama lainnya. Haydar dan Shofi telah lama bersahabat. Rasa sayang yang mereka punyai hanya rasa sayang terhadap sahabatnya. Tapi semua orang dikampung beranggapan mereka berdua pacaran, sehingga ibu Shofi melarang Shofi untuk bertemu dengan Haydar.
Materialitas yang dapat diambil dari novel daun-daun berdzikir ini adalah disaat Bram, seorang pemuda yang datang dari kota yang bermaksud melakukan penelitian dikampung jatuh hati pada Shofi, padahal banyak wanita dikampung itu mendambakan cinta seorang Bram, tapi Bram hanya mencintai Shofi. Tapi sayang, perasaan Bram tidak sama dengan Shofi, dia tidak mencintai Bram. Tidak hanya itu, cinta Bram pada Shofi telah diketahui oleh ibu Shofi dan ibu Shofi pun menyetujui cinta Bram pada Shofi. Dan ibu Shofi pun tidak tanggung-tanggung memarahi Shofi saat Shofi berusaha menetang ibunya tentang perasaannya pada Bram. Ibunya membanding-bandingkan Bram dengan Haydar, yang membuat Shofi tidak sanggup untuk mendengarnya. 
Pada saat ibunya Shofi membanding-bandingkan itulah adanya materialitas tersebut. Materialitas yang ditunjukkan oleh ibunya Shofi dengan cara lebih memprioritaskan harta dari pada agama. Dibanding dengan Haydar, Bram jauh lebih kaya, mapan, ganteng, pemuda yang berasal dari kota, berpendidikan dan baik. Sedangkan Haydar, pemuda itu baik, dan kuat agamanya tapi bila dibandingkan dengan Bram, sangat jauh perbandingannya. Haydar pemuda kampung yang paling miskin, pendidikannya hanya sampai kelas 6 SD.
Dalam novel ini, ibunya Shofi lebih setuju pada Bram karena dia kaya sedangkan Haydar adalah pemuda yang miskin. Kekayaan telah membutakan mata ibu Shofi bahwa Haydar jauh lebih baik dari pada Bram. Walaupun Haydar pemuda yang miskin tapi dia punya agama yang sangat kuat yang telah dia warisi dari ayahnya. Harta itu dapat dicari tapi agama yang berasal dari dalam jiwa itu sangat sulit dicari.
Tapi pada akhirnya Bram tersadarkan oleh perkataan Kiyai Ali yang menyebutkan sebelum kita mencitai orang lain kita harus membuat diri kita agar dicintai oleh Allah. Dengan perkataan tersebut, Bram merubah gaya hidupnya yang jarang shalat dan membaca Al-Quran, Bram belajar tentang agama kepada Kiyai Ali dan bukan itu saja, ia juga merubah penampilannya. Setelah semua itu ia lakukan, Bram berencana untuk pamit dan meninggalkan kampung itu. Bram menemui Shofi dan orang tuanya dan Bram meminta maaf pada Shofi dan kedua orang tua Shofi lalu dia permisi pamit. Mendengar perkataan yang diucapkan oleh bram tersebut, Shofi tersadar bawa ia juga mencintai Bram. Disaat Bram akan melangkahkan kaki untuk meninggalkan kampung itu, ia pun mendengar ada seseorang yang memanggilnya dan mengatakan ”karena Allah, aku pun mencintaimu,”ucap suara itu yang tidak lain dan tidak bukan keluar dari bibir Shofi.
Bram tidak dapat berkata apa-apa dan dia menarik nafas dalam-dalam. Sebuah suara yang sangat dirindukannya. Sebuah suara yang dicarinya selama ini kemana-mana. Sebuah suara yang menghentikan langkahnya, memejamkan matanya, mendebarkan detak jantungnya, menggemetarkan persendian tubuhnya. Sebuah suara yang tidak diduga-duganya. Akhir cerita novel ini sangat diluar dugaan, ternyata dengan melihat perubahan diri seorang Bram, Shofi menjadi tertarik pada Bram, padahal dulu Shofi tidak ada perasaan apapun pada Bram. Allah lah yang mengerakkan hatinya untuk mecintai Bram. Dan pada akhirnya shofi menerima Bram untuk menjadi pendamping disepanjang hidupnya.



RIWAYAT PENULIS
Nama : Suci Amanda Septia
NIM         : 04513/2008
Tempat/Tgl lahir : Jakarta/26 september 1989
Hobby : Nonton, Menari, Baca Novel
Cita-cita         : Jadi Dosen.
Alamat : Jalan Kubutanjung No 101, Tigobaleh Bukittinggi.
Motto         : Hidup adalah Perubahan Untuk menjadi yang terbaik.

 
Design by Wahyuku Design | Bloggerized by Wahyu Saputra - Free Blogger Themes | Free Song Lyrics, Cara Instal Theme Blog